Rabu, 15 Mei 2013

Orang Miskin Dilarang Kawin

Alhamdulillah Cerpen saya diblog ini yang berjudul "Roda Memang Terus Berputar" telah dibukukan dalam sebuah antologi cerpen berjudul "Orang Miskin Dilarang Kawin".




SINOPSIS

Buku Orang Miskin Dilarang Kawin berisi kisah-kisah yang lucu, menghibur dan unik mengenai pertentangan para lajang miskin yang ingin kawin. Kumpulan kisah yang berbasis dari kejadian nyata yang akan membuat pembaca tersenyum-senyum membacanya.

Kisah dalam buku ini antara lain, Suami dari FB, Bengkel Cinta, Takut Kawin dan sebagainya. Dari semua kisah yang disajikan, pembaca bisa mengambil hikmahnya, agar senantiasa meluruskan niat ketika ingin menikah (kawin).

Jangan takut menikah, walaupun saat ini Anda dalam keadaan miskin. Insya Allah, Allah Yang Maha Rahman dan Rahim akan memberi Anda rezeki. Peristiwa-peristiwa dalam buku ini bisa jadi seolah di luar logika, namun hal itu makin menunjukkan bahwa betapa Maha Besarnya Allah Subhanallahu wa taâla.

DETAIL

Judul Orang Miskin Dilarang Kawin
Seri Quanta
ISBN/EAN 9786020210407 / 9786020210407
Pengarang Anas Rumahbaca ,Andri Nugraha  dkk
Penerbit ELEX MEDIA
Terbit 1 Mei 2013
Pages 152
Berat 165 gram
Dimensi(mm) 120 x 210
Tags kisah menarik,motivasi islami
Kategori Agama


Segera dapatkan bukunya di Gramedia terdekat dan Toko buku Online kesayangan anda :)






















Kamis, 28 Maret 2013

Buku : Taaruf Lucu dan Berkesan




"Ketika Cerpen yang kita buat bisa menjadi salah satu pemenang lomba menulis cerpen, dipublikasikan dalam bentuk buku bersama tulisan pemenang lainnya, serta dijual ditoko buku besar seperti Gramedia. rasanya ada sebuah kenikmatan tersendiri dalam jiwa" - Andri Nugraha.

Awalnya saya tertarik ikut lomba menulis cerpen setelah melihat pengumuman ini :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=471973836859%EF%BB%BF


assalamualaikum wrwb,

saya mengajak sobat PENULIS PEMULA, PENULIS SENIOR, PENULIS MEMBER flp (forum lingkar pena), DAN sobat umum (bukan PENULIS member flp) di seluruh dunia DIMOHON untuk menuliskan.MENGIRIMKAN kisah nyata cerita Taaruf yang Lucu dan unik, mudah-mudahan dengan menjadi buku akan banyak manfaatnya untuk para pembacanya.

Syarat, Ketentuan dan Tema:
Tema: Taaruf yang lucu, unik dan berkesan , (sampai nikah atau belum sampai nikah nggak masalah)"
  1. Naskah harus berbasis KISAH NYATA (dalam bentuk cerita, bahasa menarik, sederhana, lucu dan mudah dicerna).
  2. Naskah Asli karya sendiri (Ejaan utama ejaan EYD, boleh sedikit disusupi bahasa daerah, bahasa gaul yang harus dijelaskan)
  3. naskah belum pernah dipubilkasi di media cetak komersial nasional dan/atau daerah
  4. Naskah boleh bersumber dari publikasi  blog pribadi seperti: multiply,  blogspot atau note/catatan FB (harap diedit dg kata YANG indah, LUCU dan ejaan EYD, AGAR BERPELUANG BESAR LOLOS KE EDITOR DI PENERBIT)
  5. Naskah bisa dari Pengalaman diri sendiri atau orang lain, bila pengalaman orang lain nama tokoh dan nama tempat harus disamarkan/DIGANTI untuk menjaga privasi.
  6. Untuk Memudahkan info, komunikasi dan koordinasi, maka  bergabunglah di grup penulis antologi ini http://www.facebook.com/home.php?sk=group_104712469599122
  7. Batas waktu 31 desember  2010
adapun hal teknisnya
  1. Ketik dalam MS Word, minimal 9 halaman A4
  2. font: times new roman, ukuran 12 spasi: 1.5
  3. Kirim ke:   ideanas@yahoo.com     subject: TAARUF (JUDUL NASKAH)                                                                               misal/contoh :TAARUF (MALU MALU KUCING)
  4. KIRIM DENGAN FILE ATTACHMENT/LAMPIRKAN FILE,  WORD SAVE AS: WORD VERSI 97-2003: (FILE BERTIPE     .DOC )                                                  (JANGAN DI BODY EMAIL)
  5. Naskah menjadi hak penyelenggara untuk mempromosikan/publikasikan tulisan anda ,agar lebih banyak pembacanya
  6. Posting di Note/catatan FB dengan men-tag bang anas (ideanas@yahoo.com) tulisan yang banyak like this (suka) akan menjadi pertimbangan lulus seleksi penyelengara,  contoh posting http://www.facebook.com/note.php?note_id=471996931859
  7. SERTAKAN BIODATA SINGKAT (di akhir tulisan)

CONTOH
Bang Udin, lahir di Jakarta, 17 Mei 1983, dipanggil BANG oleh murid-murid karena bekerja di Lembaga sWADAYA, Gemar membaca dan menulis sejak SMP. Saat ini ia tinggal di Boyzonk Gay Day II. Jl. Gandaria III Boyzonk Gay Day Tengah Boyzonk Gay Day 17411. Karyanya antara lain “Jaka ” (Self Publishing).  Penulis bisa dihubungi via
Email : BangUdin@yahoo.com
Webblog: http://ayahara.cybermq.com/

  •   Batas waktu PENERIMAAN NASKAH 31-DESEMBER 2010

insya ALLAH bila naskah selesai terkumpul minimal 100 halaman, maka naskah akan sy kirim ke PENERBIT

rencana Judul Buku nanti
  • "Kisah TAARUF LUCU DAN BERKESAN
PENGUMUMAN naskah YANG LULUS dikirim ke penerbit INSYA ALLAH, pada 27 JANUARY 2011

demikian
atas perhatian n keikutsertaannya sy ucapkan terima kasih
wassalamualaykum wr wb

Anas
(Divisi humas flp depok)

Saya pun memberanikan diri ikut acara tersebut dengan mengirim tulisan berjudul
 "Sambil Menyelam, Cari Mutiara (Kisah Taaruf)"
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150098812775428

Alhamdulillah terpilih menjadi salah satu pemenangnya :)

dan sekarang cerpen saya itu dijadikan sebuah buku :
http://www.facebook.com/anasmulk/posts/422570291168686

Info Buku Baru:
Alhamdulillah, rekan2 yang kami cinta, buku kisah2 Taaruf Lucu dan Berkesan Baru terbit di gramedia elex quanta baca ya :) semoga tersenyum
SINOPSIS
Taaruf Lucu dan Berkesan
oleh Anas Rumahbaca , dkk

"Banyak kasus orang yang berpacaran bertahun-tahun, setelah mereka menikah, tetapi bercerai dalam waktu yang singkat. Oleh karena itulah, kini banyak orang menggunakan cara menikah tanpa pacaran atau taaruf (saling mengenal) sebelum menikah. Ada banyak kisah lucu dalam proses taaruf, baik kisah yang gagal ke pelaminan atau yang berhasil ke pelaminan.

Anda penasaran? Baca kisah-kisahnya…. Buku ini diawali oleh kisah groginya seorang ustad ketika mengenal akhwat. Lalu kisah di Bis Damri, seorang wanita berjilbab yang sudah bersuami langsung ditawari proposal nikah lengkap dengan map coklat berisi surat-surat sertifikat rumah dan mobil. Baru kenal di atas KRL ekspress, ada juga wanita dimintai nomor ponselnya dan ditaarufi.

Ada kisah bertema Malu. Kisah wanita memasang syarat menikah hanya karena sepak bola. Ada juga wanita yang mempermasalahkan rambut gondrong. Ada pria yang sambil menyelam mendapat mutiara, dan lain sebagainya. Buku ini diakhiri sebuah kisah manis wanita yang ikhlas dilangkahi. Secara garis besar, buku berisi kisah-kisah pergaulan dan perkenalan antar manusia yang bisa diambil hikmahnya serta dibilang lucu dan mengesankan yang sebagian berakhir hanya pada jenjang pertemanan, sebagian lagi ke jenjang pernikahan.

Buku ini juga menambah wawasan pembaca bahwa makna taaruf yang kini sedikit bergeser yaitu dari makna taaruf sekedar label “tandingan pacaran” ke makna taaruf yang sebenarnya artinya saling mengenal. Bila ada pernikahan setelah kisah-kisah taaruf tersebut merupakan sebab saja, karena pernikahan ialah semata-mata takdir Allah yang sudah tertulis untuk setiap manusia, takdir itu sudah tertulis sebelum manusia lahir.

Oleh karena di dalam buku ini ada sebagian adegan yang berbau pacaran, maka perlu saya sertakan rambu-rambu taaruf di akhir buku. -=* Selamat Bergaul, Berkenalan, dan Bertaaruf *=-"


DETAIL
Judul Taaruf Lucu dan Berkesan
Seri Quanta
ISBN/EAN 9786020208022 / 9786020208022
Pengarang Anas Rumahbaca , dkk
Penerbit ELEX MEDIA
Terbit 27 Maret 2013
Pages 172
Berat 185 gram
Dimensi(mm) 140 x 210
Tag

http://www.gramedia.com/book/detail/9786020208022/Taaruf-Lucu-dan-Berkesan
Silahkan beli bukunya, banyak manfaat yg akan anda dapatkan :)



Senin, 07 November 2011

Percakapan di Ruang Praktek Bidan

Suatu hari di ruang praktek bidan terjadi percakapan seperti ini :

Bidan : “Bagaimana kabarnya bu ? sudah 3 bulan ibu melahirkan kok baru kesini lagi ?”

Istri Ali : “Alhamdulillah sehat walafiat.iya Bu maaf baru sempat kemari sekarang”

Lalu sang bidan memeriksa keadaan bayi istri Ali yang gemuk dan lucu.

Bidan : “anaknya sehat bu. Sudah diimunisasi belum ?”

Istri Ali : “sudah Bu”

(dalam hati ia berkata,”imunisasi dengan ASI dan sari kurma”)

Bidan : “Baiklah. Kalau ibu sudah ikut program KB atau belum ?”

Istri Ali : “sudah Bu”

(dalam hati ia berkata,”saya ikut program Rasulullah yaitu Keluarga Besar,bukan Keluarga Berencana”)

***

Saat menceritakan percakapan diatas pada suaminya, Ali tertawa dengan lebar sambil berkata,”istriku cerdas sekali, Abi bangga menikah dengan Ummi”

Ali mengecup kening istrinya lalu berkata,”apa yang telah Ummi lakukan ditempat bidan tadi telah menyelamatkan anak kita dari ancaman bahaya dibalik program imunisasi dan vaksinasi yang gencar dilakukan kaum kafir untuk melemahkan umat islam”

Sambil tersenyum, ia berkata lagi pada istrinya tercinta,”dengan mengikuti program Rasulullah yaitu Keluarga Besar maka Ummi telah mengikuti sunnahnya”*

*"Kawinlah dengan perempuan pecinta lagi bisa punya anak banyak (subur) agar aku dapat membanggakan jumlahmu yang banyak di hadapan para nabi pada hari kiamat nanti."

(H.R. Abu Dawud dan Nasa'i)

Minggu, 24 Juli 2011

Pada Hari Ketujuh Kelahiran Rahma






Pada hari pertama kelahiran putri kami, suara adzan langsung diperdengarkan pada telinga kanannya dan iqomah pada telinga kirinya. Hal ini mencontoh dari sunnah Rasulullah SAW saat memperdengarkan adzan pada telinga Hasan ra (cucunya), hal ini dimaksudkan agar suara yang pertama kali didengar sang bayi di dunia ini adalah kalimat tauhid, sehingga setan akan menjauh darinya sejak ia masih kecil.

Dan pada hari ketujuh kelahiran, terdapat sunnah Rasulullah SAW seperti terdapat pada hadits dibawah ini :

عَنْ سَمُرَةَ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقُولُ « كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُمَاطُ عَنْهُ الأَذَى وَيُسَمَّى ».

Dari Samurah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap bayi laki-laki itu tergadai dengan akikahnya. Akikah tersebut disembelih pada hari ketujuh, dihilangkan kotoran darinya dan diberi nama.” (HR. Ahmad no 20201, sanadnya shahih menurut Syaikh Syu’aib al Arnauth).

Dalam hadits lain disebutkan,”Setiap anak terikat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi nama, dan dicukur". (HR. at-Tirmidzi).

Sunnah pada hari ketujuh adalah akikah, pemberian nama dan dicukur rambutnya. Namun karena keterbatasan dana, kami tidak melakasanakan akikah yakni memotong hewan berupa kambing. Kami hanya melaksanakan sunnah yang lainnya, yaitu mencukur rambut serta memberinya nama.

Alhamdulillah ketika proses pencukuran, sang bayi tidak menangis hingga bisa berjalan lancar. Yang mencukur rambut bayi kami adalah ayah mertua yang bernama KH U Bunyamin Ghufron. Beliau sudah terbiasa mencukur rambut anak dan cucu – cucunya.

Setelah selesai dicukur, rambutnya lalu kami kumpulkan dan nantinya akan ditimbang di toko emas. Selesai penimbangan kami pun lalu bersedekah dengan seberat timbangan rambut bayi tersebut. Hal ini mengikuti sunnah Rasul dalam hadits dibawah ini :

عن جعفر بن محمد بن علي عن أبيه أنه قال : وزنت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم شعر حسن و حسين و زينب و أم كلثوم فتصدقت بوزن ذلك فضة

Dari Ja’far bin Muhammad bin Ali dari ayahnya, Fathimah binti Rasulillah menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab dan Umm Kultsum lalu bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya. (HR Baihaqi dalam Syuabul Iman no 8629).

Tentang Pemberian Nama

Rasululloh SAW bersabda,“Seseorang datang kepada Nabi (SAW) dan bertanya,”Ya Rasululloh, apa hak anakku ini?” Nabi SAW menjawab,”Memberinya nama yg baik, mendidik adab yg baik, dan memberinya kedudukan yg baik (dalam hatimu)”.” (HR Aththusi)

Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan :

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا (7) سورة مريم

“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).

Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu apabila seseorang tidak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (= tidak dikenal) oleh masyarakat.

Kewajiban bagi seorang bapak adalah memilih nama terbaik bagi anaknya, baik dari sisi lafadz dan maknanya, sesuai dengan syar’i dan lisan arab. Kadangkala pemberian nama kepada seorang anak baik adab dan diterima oleh telinga/pendangaran akan tetapi nama tersebut tidak sesuai dengan syari’at

Sebagai seorang ayah, tentu saja saya ingin memberikan nama yang baik pada anak pertama. Namun saya juga melakukan kompromi dengan istri agar nama yang dibuat bisa mencerminkan eratnya ikatan cinta kami yang dilambangkan pada nama buah hati kami berdua.

Kami sepakat memberi nama : Nadia Rahmania Andriani

Nadia = berasal dari kata Nahdiah yang berarti penyeru, pengajak, pendakwah

Rahmania = Rahman berasal dari nama Allah SWT yang berarti Yang Maha Pengasih.
Karena ada ketentuan jika nama Allah SWT terlarang dijadikan nama makhlukNya kecuali memakai tambahan kata atau huruf maka kami pun menambahkan huruf I dan A agar nama itu bisa disandang oleh anak kami tercinta. Terlarang menggunakan nama Ar Rahman, namun jika ditambah kata Abdul menjadi Abdul Rahman atau ditambah huruf I dan A menjadi Rahmania maka hal itu tidak mengapa dilakukan.

Andriani = berarti anugerah dari nirwana/surga
Meskipun kata terakhir bukanlah berasal dari bahasa arab, namun nama itu sengaja kami pilih sebagai ungkapan kebahagiaan dan kegembiraan telah dikaruniai anak perempuan yang lucu dan cantik pada pernikahan kami. Anugerah dari nirwana/surga seolah menggambarkan betapa bahagianya saya, istri, beserta seluruh keluarga besar kami menyambut lahirnya anak pertama kami. Alhamdulillahirobbil’alamin.

Rasulullah SAW menyatakan bahwa nama adalah Do’a (do’a orang tua kepada anaknya).
Nadia Rahmania Andriani merupakan do’a semoga dimasa depan sang anak bisa menjadi penyeru/pendakwah bagi umatnya dengan penuh kasih sayang hingga bisa mengajak mereka menuju kehidupan abadi yang kekal di surga.

Allahumma amin yaa robbal ‘alamin.

Bandung, 22 Sya’ban 1432 H/ 24 Juli 2011

Selasa, 12 Juli 2011

Anakku ... Nadia Rahmania Andriani





Alhamdulillahi robbil ‘alamin

Telah lahir ke dunia Nadia Rahmania Andriani, anak perempuan pertama dari pasangan Andri Nugraha dan Nunung Siti Aminah pada tanggal 8 Syaban 1432 H/10 Juli 2011 pukul 5.05 WIB dengan berat 2,7 Kg dan panjang 50 cm.

Naadiyah = Nadia = para penyeru,pengajak/pendakwah
Ar Rahman = Rahmania = kasih sayang,kebaikan
Andriani = anugerah dari nirwana

Semoga keindahan namanya menjadi do’a dan harapan dimasa depan sang anak bisa menjadi seorang pendakwah/mujahidah yang menyerukan nilai – nilai kasih sayang dan kebaikan agama Islam pada umatnya.

Wassalam
Andri Nugraha

Senin, 30 Mei 2011

Solusi Tak Terduga

Hujan turun sangat deras disertai udara dingin yang menusuk kulit. Ali dan istrinya baru saja selesai menunaikan ibadah shalat subuh berjamaah dikamar kontrakannya yang mungil.

“Abi, kenapa sih suka banget pakai sajadah warna hijau itu ? padahal kan Abi masih punya sajadah lain yang lebih bagus”, tanya Siti Nurjanah, istri istri. Yang ditanya malah tersenyum lalu dengan kalemnya ia menjawab,”memang sajadah ini warnanya telah pudar sedangkan yang lain lebih bagus, namun sajadah ini pemberian dari seseorang dan mempunyai nilai kenangan yang tak tergantikan”, jawab Ali.

***
Dulu waktu Ali masih kursus komputer, ada seorang teman akhwat yang diam – diam menyukainya. Akhwat tersebut bernama Dewi Puji Astuti yang biasa dipanggil Dewi. Ali dan Dewi hanyalah teman kursus biasa, tidak ada hal yang istimewa diantara mereka berdua. Namun karena Ali sering membantu kesulitan Dewi saat mengerjakan tugas dan sering pula pulang naik angkot yang sama maka tak disangka tumbuh “benih cinta” dihati Dewi.

Cinta Dewi yang tumbuh semakin membesar tak diiringi perasaan yang sama dihati Ali. Ia baru menyadari bahwa Ali adalah lelaki yang selalu bersikap dingin pada semua wanita. Hal itu dikarenakan Ali saat ini tidak mau membina hubungan apapun dengan wanita karena sedang fokus bekerja dan kursus komputer untuk membantu biaya sekolah ketiga adiknya. Ketika usia Ali tepat menjadi 24 tahun, Dewi memberinya kado berisi sajadah, peci, sarung, dan tasbih. Disaat memberikan kado itulah Dewi mengungkapkan perasaannya pada Ali secara terang – terangan. Ali kaget ketika mengetahui Dewi ternyata betapa sangat mencintainya.

Namun sayang, saat itu Ali belum siap untuk menikah dan ia pun tidak mau terjebak dalam situasi “pacaran”. Maka dengan berat hati Ali menolak cinta Dewi dan menganjurkannya untuk mencari laki – laki lain yang telah siap menikah dengannya. Hati Dewi serasa remuk, ia merasakan kepedihan yang tiada tara ketika mengetahui cintanya tak terbalas dan malah dianjurkan untuk mencari lelaki lain. Namun dengan sabar ia hadapi kondisi tersebut dengan hati yang selalu ingat kepada Sang Pencipta.

“Ya Allah ... aku bisa menerima jika mungkin saat ini Ali belum berniat menikah denganku. Semoga saja dimasa depan ia bisa membuka hatinya dan bersedia menikah denganku. Aku tidak akan menikah dengan laki – laki lain dan akan terus menunggunya sampai ia jadi imam rumah tanggaku”, itulah rintihan hati Dewi yang tetap berharap bisa bersanding dengan Ali suatu hari nanti.

Waktu berjalan sangat cepat, kursus komputer selama 6 bulan itu pun akhirnya usai. Ali mendapat pekerjaan di perusahaan multifinance berbasis syariah sedangkan Dewi bekerja sebagai operator disebuah radio swasta. Perbedaan tempat kerja tersebut menyebabkan Ali dan Dewi jarang berkomunikasi dan bertatap muka lagi. Mereka hanya sesekali bertemu jika keduanya menghadiri pengajian rutin malam jum’at disebuah pesantren di kawasan Gegerkalong Bandung. Itupun tanpa ada pertemuan khusus berdua karena Ali bergabung di masjid dengan jamaah ikhwan, begitu pula Dewi yang berkumpul bersama jamaah akhwat.

***

“wah ... ceritanya mengharukan sekali, kayak di sinetron aja. Waktu kita nikah, Dewi datang ke acara resepsi atau nggak ?’, tanya sang istri pada Ali. Dengan tenang Ali menjawab,”nggak. Waktu itu kebetulan ia sedang sakit dan terpaksa kakaknya yang mewakili hadir diacara resepsi pernikahan kita”.

“kalau menurut Ummi, Dewi pasti kaget waktu menerima undangan pernikahan kita. Dan ia pasti tidak akan kuat hati melihat Abi menikah dengan Ummi. Abi ngga tau sih bagaimana perasaan seorang perempuan disaat lelaki yang dicintainya malah menikah dengan perempuan lain”.

Ali terdiam lalu berkata,”jadi Ummi menyalahkan Abi yang menolak cintanya lalu mengirim undangan padanya ?”. “Ummi nggak menyalahkan Abi, jodoh itu sudah diatur Yang Maha Kuasa. Semua masa lalu Abi dan Dewi adalah takdir yang tidak bisa dihindari. Begitu pula kejadian saat ini dan dimasa depan”, jawab sang istri.
“kadang Abi juga merasa bersalah pada Dewi karena telah menolak cintanya dulu, namun bagi Abi penolakan saat itu adalah pilihan yang terbaik dibanding harus menikah namun dalam keadaan belum siap nikah atau pun tidak menikah tapi malah terjerumus pacaran”, kata Ali.

“ tidak ada niat sedikitpun dihati Abi untuk menyakiti hati perempuan manapun didunia ini, termasuk Dewi”

Siti Nurjanah tersenyum melihat suaminya tersayang lalu berkata,”Ummi percaya Abi adalah laki – laki baik yang tidak pernah menyakiti hati perempuan. Penolakan cinta yang dilakukan Abi benar - benar pilihan terbaik. Malah Ummi bangga dengan sikap Abi yang bijak, meminta Dewi untuk menikah dengan lelaki lain yang telah siap nikah. Jarang ada laki – laki ketika menolak cinta dari seorang wanita yang mau memberi solusi seperti itu. Sungguh luar biasa”, katanya sambil menatap wajah Ali.

“satu hal yang Abi tidak mengerti dari sikap Dewi adalah kenapa ia selalu menutup pintu hatinya untuk menerima pinangan lelaki lain. Menurut kakaknya, telah banyak lelaki yang datang menemui ayahnya dengan niat untuk mempersunting Dewi. Namun tanpa alasan jelas, semuanya ditolak. Kira – kira Ummi tau apa yang kini dirasakan Dewi ?”, tanya Ali.

“mungkin ia masih mengharapkan Abi untuk jadi suaminya ... hehe”. Jawab sang istri setengah bercanda.

Ali tersenyum malu – malu mendengar kata – kata tersebut. Wajahnya pun mendadak memerah seketika.

***

“Abi, malam ini kita ke pengajian di Gegerkalong yuk ?”, ajak sang istri pada Ali. “Insya Allah”, jawab Ali pendek.
“selain mengaji, Ummi juga berharap bisa ketemu sekaligus silaturahim dengan Dewi ... hehe”, kata sang istri.

Ali merasa terheran – heran mendengar kata – kata istrinya barusan dan bertanya,”memangnya apa yang ingin Ummi lakukan jika bertemu Dewi ?”.

“Itu rahasia. Pokoknya nanti tolong Abi pertemukan Ummi dengan Dewi ya”, jawabnya sambil tersenyum penuh semangat.

Keinginan Siti Nurjanah agar bisa dipertemukan dengan Dewi rupanya dikabulkan oleh Allah SWT. Ketika ia dan Ali tiba diteras pesantren tersebut, secara tak sengaja berpapasan dengan Dewi yang hendak masuk ke masjid. “Assalammu’alaikum, ini kak Ali, kan ?”, tanya Dewi. “wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh. Iya benar”, jawab Ali datar.

Dewi menatap wajah Siti Nurjanah lalu dengan ramah segera berkenalan dengannya. Dengan santun Dewi mengajak istri Ali masuk ke masjid untuk bergabung dengan akhwat lain, sedangkan Ali bergegas menuju ruangan khusus ikhwan.

***

“Ummi sangat berterima kasih pada Abi yang udah mempertemukan Ummi dengan Dewi semalam”, kata istri Ali memulai perbincangan.

“iya. Memangnya kalian ngobrolin apa aja sih ? ceritakan sedikit dong pada Abi. Biar ga penasaran.hehe”, jawab Ali.

“awalnya Ummi hanya ingin kenalan aja dengan Dewi, namun ternyata ia banyak bertanya pada Ummi tentang bagaimana proses pernikahan kita. Mulai dari kenalan hingga tahap menikah dengan Abi. Dan Ummi jawab saja semua pertanyaannya dengan jujur, tanpa ada yang dikurangi ataupun dilebihkan. Dewi juga mengatakan pada Ummi kalau dulu ia adalah teman kursus komputer dengan Abi”, cerita sang istri.

“Oh begitu. Syukurlah jika kalian sekarang telah saling mengenal, mudah – mudahan kedepannya bisa menjadi teman baik”, kata Ali.

“Abi, ternyata Dewi sampai sekarang belum menikah. Tadi ia cerita pada Ummi bahwa ia belum bisa menemukan sosok lelaki yang baik dan soleh seperti Abi”, kata istri Ali.
“lalu Ummi kasih nasehat pada Dewi ?”, tanya Ali.

“Sudah. Ummi katakan padanya untuk mencoba membuka hati pada lelaki lain, karena mungkin saja lelaki tersebut merupakan orang baik dan soleh atau mungkin lebih baik dan lebih soleh daripada Abi”, jawab sang istri.

“lalu bagaimana reaksinya ?”, tanya Ali jadi penasaran.

“ia tersenyum lalu matanya berkaca – kaca seperti hendak menangis. Ia pun memeluk Ummi dan mengucapkan terima kasih atas nasehat yang telah diberikan”, jawab sang istri.

“Subhanallah, nasehat yang Ummi katakan pada Dewi benar – benar bagus. Semoga saja hatinya tersentuh dan ia mau membuka hati untuk lelaki lain”, kata Ali.
“amin”

***

Usia kehamilan Siti Nurjanah telah memasuki usia 7 bulan, sebentar lagi Ali akan jadi seorang Ayah. Namun sebelum hari itu tiba, ia dikagetkan dengan keinginan istrinya yang hendak melahirkan dikampung halamannya di Garut. Siti Nurjanah ingin pada saat kelahiran anak pertamanya bisa dekat dengan keluarganya, terutama ibunya di Garut. Namun ia janji kalau kelahiran anak kedua, ketiga dan seterusnya akan di Bandung saja. Awalnya Ali menolak keinginan sang istri, namun setelah dipikir lagi memang ada baiknya jika kelahiran anak pertama dilakukan di Garut. Ia khawatir jika melahirkan di Bandung belum tentu bisa mengurus istrinya dengan baik karena kesibukan aktifitasnya yang padat di kantor.

“Ummi kemungkinan akan pergi ke Garut saat usia kehamilan memasuki usia delapan bulan, melahirkan disana lalu pemulihan kurang lebih 40 hari dan kembali ke Bandung setelah bayi berusia sekitar 1 bulan. Nah, selama Ummi tidak ada, bagaimana dengan Abi ?”, tanya sang istri.

“Tenang saja, Abi bisa tinggal dirumah orang tua lagi seperti pada masa bujangan dulu atau tinggal dirumah kontrakan sendirian biar mandiri ... hehe”, jawab Ali sambil tersenyum.

“Abi yakin bisa mandiri ? selama ini Abi sudah repot dengan pekerjaan yang menyita waktu dari pagi hingga sore bahkan terkadang sampai malam hari. Apalagi jika ditambah harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga ?”, tanya sang istri.
“iya. Memang Abi akan merasa kerepotan jika tidak ada Ummi, tapi yakinlah Abi bisa mengatasi segalanya dengan baik. Insya Allah”, jawab Ali.

“Ummi kurang setuju jika Abi balik lagi kerumah orang tua. Dulu saat bujangan sudah sering merepotkan orang tua, jangan sampai setelah menikah malah berbuat seperti itu lagi. Namun jika tinggal disini sendiri, Ummi agak ragu Abi bisa hidup mandiri”, kata sang istri.

“Tenang saja … Abi yakin bisa mengatasi keadaan itu”, jawab Ali.

“Ummi punya sebuah ide agar Abi tidak kerepotan saat Ummi pergi”, kata sang istri
“ide apa ?”, tanya Ali jadi agak penasaran.

“menikahlah dengan Dewi”, kata Siti Nurjanah dengan mantap.

“astagfirullahaladzim. apa Abi nggak salah dengar ucapan Ummi barusan ?”, tanya Ali dengan badan bergetar.

“tidak. Abi tidak salah dengar. Ummi menganjurkan Abi menikah dengan Dewi agar terjadi kemaslahatan dan mencegah kemudharatan”, jawab Siti Nurjanah secara diplomatis.

“maksudnya ?”, tanya Ali lagi.

“jika menikah dengan Dewi maka Abi telah menyembuhkan rasa sakit hatinya dulu dan menutup peluang ia menjadi perawan tua karena selalu berharap Abi akan jadi suaminya. Lalu setelah kalian menikah maka Abi tidak akan kerepotan mengurus pekerjaan rumah tangga karena telah memiliki istri lagi”, kata Siti Nurjanah sambil menggenggam tangan suami tercintanya.

Ali hanya terdiam dan tertegun mendengar ucapan istrinya tersebut, ia tak pernah berpikir bahwa istrinya bakal berkata seperti itu.

Ia mengecup kening istrinya lalu berkata,”Subhanallah. Ummi benar – benar istri yang luar biasa. Cinta dan perhatian Ummi pada Abi begitu besar hingga rela menyuruh Abi menikah lagi”.

“Iya. Mudah – mudahan menikah dengan Dewi bisa menjadi solusi yang baik buat kehidupan Abi”, kata Siti Nurjanah yang larut dalam pelukan Ali.

“Baiklah. Jika itu kemauan Ummi, maka Abi akan segera menghubungi Dewi dan keluarganya. Mohon do’anya semoga rencana kita bisa berjalan lancar dan diridhoi Allah SWT”, kata Ali.

“Allahumma amin yaa robbal ‘alamin”, sambut Siti Nurjanah.

Minggu, 22 Mei 2011

Tak Ada Kata Sendirian

Jum’at sore pukul 16.10 WIB Ali sedang bersiap pulang kerja. Sebelum mematikan komputernya ia membuka situs FB (Facebook) untuk mengetahui kabar terbaru sahabat dunia mayanya. Tiba – tiba kolom chatting terbuka dan terjadilah percakapan sebagai berikut :

Aini : asslm. Pa kbr kk ?

Ali : wa’alaikumussalaam. alhamdulillah sht walafiat. Gmn dgn adik ?

Aini : Alhamdulillah baik. Kk, boleh tanya ssuatu, ga ?

Ali : boleh aja

Aini : gini k. Klo aq lg brg kluarga atw tmn, suka giat bribadah n takut mlakukn maksiat. Tapi aneh klo lg sendirian jd males bribadah n malah sring brmaksiat yg ujung2ny jd dosa. Kira2 knp bs bgitu ya k ?

Ali : ada yg kurang dlm ibadah adik

Aini : apa ka ?

Ali : ihsan

Aini : apan tuh ka ?

Ali : ihsan itu bribadah kpada Allah seakan2 adik melihatNya. Klo adik ga bs mlihatNya, yakinlah bahwa Dia pasti melihatmu.

Aini : jd intinya aq hrus slalu mrasa diawasi ya ka ?

Ali : bnar.klo lg brg kluarga atw tmn giat bribadah trus klo lg sndiri malah jd malas brarti slama ini adik belum menyadari bahwa sgala prilaku n ibadah qta baik brjamaah maupun sndirian itu slalu diawasi 2 malaikat yg slalu mengikuti n mnilai smua prbwtan qta. Selain 2 malaikat tersebut ada Allah yang slalu mngetahui gerak gerik qta bahkan niat dlm hti qta yg org lain nggak ktahui.

Aini : ooo gitu. Emg bner jg sih ka. Slama ini aq klo lg sndirian rasany bebas brbwt apapun, baik saat ibadah maupun dlm aktifitas shari2. Tp skrg aq sadar bahwa Allah brsama malaikatNya slalu ada disisiq disaat sndirian maupun lg brg bnyk org.

Ali : syukurlah klo adik skrg udh mnyadari hal itu. Smoga adik mulai hri ni bs mnjd muslimah yg lbih baik dr hri kmarin. Ingatlah bahwa tidak ada kta “sndirian” krn Allah bserta malaikatNya slalu mnemani qta.

Aini : amin. Makasih atas do’a dan jawabanny ya ka.

Ali : iya

Aini : oiya ka. Istri skrg udh hamil brp bulan ?

Ali : 7 bulan lebih. Do’akan aja smoga sgalanya lancar y :)

Aini : iya k. Wah bntar lg kk mw jd ayah nih n aq pny ponakan. Salam bwt istriny y k.

Ali : ok. ntar dsampaikn salamny

Aini : makasih y ka. Wassalammu’alaikum

Ali : wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh.

Kolom chatting ditutup lalu Ali pun menekan tombol “log out” dan langsung mematikan komputernya.

***

Informasi Hadits tentang Ihsan :

Dari Umar bin Al-Khathab radhiallahu 'anh, dia berkata: ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata," Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam " Rasulullah menjawab,"Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya." Orang itu berkata,"Engkau benar," kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya Orang itu berkata lagi," Beritahukan kepadaku tentang Iman" Rasulullah menjawab,"Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk" Orang tadi berkata," Engkau benar" Orang itu berkata lagi," Beritahukan kepadaku tentang Ihsan" Rasulullah menjawab,"Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu." Orang itu berkata lagi,"Beritahukan kepadaku tentang kiamat" Rasulullah menjawab," Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya." selanjutnya orang itu berkata lagi,"beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya" Rasulullah menjawab," Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan puterinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan." Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, "Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?" Saya menjawab," Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui" Rasulullah berkata," Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu" [HR Muslim no. 8]

Rabu, 30 Maret 2011

Masih Ada Jatah 3 Lagi



Usai acara resepsi pernikahan, Ali dan istrinya berbicara mengenai para tamu undangan. berikut petikan perbincangan tersebut :

Ali : "alhamdulillah acaranya berjalan lancar. banyak banget tamu yang datang, abi ga menyangka akan kedatangan tamu sebanyak itu.

Istri : "iya abi. mereka kebanyakan adalah guru dan santri - santri di pesantren Al Falah tempat ummi belajar"

Ali : "Subhanallah. semoga do'a dan restu mereka membuat pernikahan kita barokah serta diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala".

Istri : "allahumma amin yaa robbal 'alamin".

Tiba - tiba sang istri tersenyum pada Ali dan ia pun berkata,"Abi tadi terlihat aneh saat melihat rombongan santriwati ... lagi melihat - lihat calon istri keduanya ya ?".

Ali kaget mendengar pertanyaan tersebut, ia pun menjawabnya,"Abi tidak memungkiri memang memiliki niat untuk berpoligami dimasa mendatang. memangnya ummi keberatan kalau abi berpoligami ?".Ali balik bertanya pada istrinya.

"tidak. kan masih ada jatah 3 wanita lagi untuk abi. asalkan bisa adil dan mampu melakukannya, ummi pasti akan meridhainya", jawab sang istri dengan mantap.

"Subhanallah, istriku ini memang wanita yang mulia. sungguh beruntung abi bisa menikahinya", kata Ali sambil memeluk istri kesayangannya tersebut.

kenangan 10 - 10 - 2010

Foto dari : http://nambas.wordpress.com/2010/03/03/quraish-shihab-poligami-dan-kawin-sirri-menurut-islam/

Senin, 24 Januari 2011

Roda Memang Terus Berputar (Perjuangan Orang Miskin Untuk Menikah)

Mentari terlihat lelah sore itu, warnanya tak lagi kuning menyala namun telah berganti jingga keemasan. Ali terduduk membisu disudut kendaraan angkutan umum jurusan Margahayu Raya – Ledeng, sambil menatap lalu lalang manusia, motor dan mobil saling berkejaran dibelakang angkot yang ditumpanginya.

Diperempatan Cipaganti sopir menghentikan angkot karena lampu merah, tiba – tiba ia mendengar lagu “Munajat Cinta” dinyanyikan oleh pengamen jalanan yang masih belia :

“Malam ini ku sendiri … tak ada yang menemani

Seperti malam – malam yang sudah – sudah

Hati ini selalu sepi ... tak ada yang menghiasi

Seperti cinta ini yang selalu pupus”

Lirik lagu itu serasa menghujam hati Ali dengan keras, ia pun lalu berbisik,”gila yang bikin lagu ini, lagunya gue banget !”.

Tanpa dikomando, bibirnya lalu bergumam mengikuti reffrain kelanjutan lagu yang dinyanyikan sang pengamen,”Tuhan kirimkanlah aku kekasih yang baik hati ... yang mencintai aku apa adanya”. Ali menghirup nafas dalam – dalam lalu melepaskannya perlahan,”Ya Allah, kapan ya aku bisa bertemu dengan seorang wanita yang bisa menerimaku apa adanya ?”, keluhnya dalam hati.

***

Ali terdiam dan tertunduk lesu disudut kamarnya yang sempit, ia menoleh potret kedua orang tuanya yang sangat disayanginya. “Pa ... Bu, maafkan anakmu ini ya, yang belum bisa menjawab pertanyaan kalian dan belum bisa memenuhi keinginan kalian”, katanya dengan mata berkaca – kaca.

Ayah Ali seorang guru SD disebuah kecamatan terpencil di Sukabumi, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Tiap pulang mudik saat lebaran, mereka kerap bertanya pada Ali dengan pertanyaan dan keinginan yang sama.”nak, kapan kamu akan menikah ?” dan “ibu ingin segera menimang cucu”.

Niat untuk menikah sudah ada dihati Ali, namun entah mengapa selalu ada saja hal yang menggagalkan rencananya tersebut. Ali masih menyimpan trauma pada taarufnya bersama seorang adik teman sepekerjaannya.

Direstoran seafood tempat Ali bekerja, ia dikenal sebagai pemuda soleh dan baik hati. Tiap waktu shalat tiba, ia selalu jadi orang pertama yang ada di mushalla untuk mendirikan shalat wajib. Bacaan ayat qurannya yang fasih membuatnya sering diminta menjadi imam jika shalat berjamaah. Ali pun sering dianggap sebagai karyawan yang rajin. Jika pekerjaannya telah beres, ia sering membantu temannya yang masih sibuk walaupun beda divisi.

Kesolehan dan kebaikannya itulah yang membuat Pak Firman, seorang koki direstoran tersebut berminat mengenalkan Ali pada adik perempuannya. Awalnya Ali merasa minder dengan ajakan teman kerjanya itu.”apakah tidak malu Bapak mengenalkan adiknya pada seorang tukang cuci piring seperti saya ?”, tanya Ali. “tidak. Justru Bapak senang jika kamu bisa menjadi adik iparku nanti”, balas Pak Firman sambil tersenyum.

Pak Firman lalu menceritakan sedikit profil tentang adik perempuannya yang kini berusia 24 tahun dan bekerja disebuah pusat perbelanjaan sebagai pramuniaga toko baju muslim dan perlengkapan haji. Pak Firman pun lalu memperlihatkan sebuah foto ukuran dompet atau 2R bergambar potret adiknya tersebut pada Ali. Tangan Ali terasa bergetar saat menerima foto tersebut lalu dilihatnya dengan cermat. Subhanallah, wanita berjilbab panjang dengan kacamata minus serta bertahi lalat dipipi kiri itu terlihat anggun sekali dimata Ali. Ia seolah tidak percaya Pak Firman mau mengenalkan adik perempuannya itu kepadanya.

“lihat fotonya sudah, mau lihat aslinya, tidak ?”, tanya Pak Firman.

Ali tersipu malu lalu membalas,”iya Pak”.

“Ok. Nanti jika adik saya libur kerja, saya ajak kamu kerumah untuk berkenalan dengannya”, seru Pak Firman penuh semangat.

Hari perkenalan itupun tiba. Pak Firman sengaja menjemput Ali dengan motor sportnya dan mereka pun segera berangkat menuju kawasan Riung Bandung. Di depan sebuah rumah yang agak besar bercat putih, Pak Firman menghentikan motornya lalu menyuruh Ali turun dan membuka pintu pagar rumah tersebut. Sejenak Ali terkagum – kagum melihat rumah asri nan sejuk dipandangan mata tersebut. Ia tak menyangka Pak Firman dan keluarganya tinggal dirumah sebagus itu.

Ali duduk dikursi kayu jati panjang berwarna cokelat tua, ia memperhatikan satu persatu foto yang ada diruang tamu. Dari deretan foto – foto tersebut ia berkesimpulan bahwa keluarga Pak Firman adalah keluarga besar yang harmonis. Tiba – tiba datanglah Pak Firman bersama seorang lelaki berbadan tinggi besar yang usianya mungkin lebih tua 5 tahun dari usia ayah Ali.

Setelah mengucapkan salam dan berjabat tangan, mereka bertiga pun mulai berbincang tentang rencana Pak Firman mengenalkan adiknya pada Ali. Lelaki tua tersebut rupanya ayah Pak Firman yang bernama lengkap Dedi Setiadi. Aneh, Ali merasakan hawa kurang mengenakkan dihatinya saat Pak Dedi menatap dirinya dengan tajam.

Ia lalu bertanya,”nak Ali ini teman kerja Firman direstoran, ya ?”.

“Benar Pak”, jawab Ali pendek.

“Bagian apa ?”, tanyanya lagi.

“Dishwasher Pak”, jawab Ali dengan gugup.

Pak Dedi terlihat kebingungan, ia mengernyitkan dahinya lalu bertanya lagi karena penasaran,”Dishwasher itu lebih jelasnya bagian apa ?”.

“Tukang cuci piring Pak”, jawab Ali pelan.

“oh begitu. Bapak kira kamu itu sama – sama koki seperti Firman atau waiter”, kata Pak Dedi .

Tiba – tiba datanglah seorang perempuan muda berjilbab biru membawakan 3 gelas teh hangat dan beberapa toples kue kering kehadapan mereka bertiga. Setelah diperhatikan, Ali baru menyadari bahwa wanita itu adalah adik perempuan Pak Firman yang hendak dikenalkan padanya. Pak Dedi lalu menyuruh anak perempuannya tersebut duduk disampingnya. Detak jantung Ali jadi berdegup lebih kencang dan keringat dingin mulai menjalari tubuhnya saat ia menatap wajah adik Pak Firman.

“ini anak perempuan bapak satu – satunya, namanya Rina Kusuma Wardhani. Sekarang ia kerja di toko perlengkapan haji di ABC Mall”,kata Pak Dedi. Ia pun lalu bercerita tentang keadaan keluarganya. Rupanya Pak Dedi adalah seorang pensiunan PNS dan istrinya telah wafat 3 tahun yang lalu. Ia hanya memiliki 2 anak yaitu Pak Firman dan Rina.

“nak Ali sebelum kerja direstoran, pernah kerja dimana saja ?”, Tanya Pak Dedi lagi.

“saya pernah kerja jadi Office Boy disebuah perusahaan distributor barang elektronik dan jadi seorang Cleaning Service di Pesantren Daarut Tauhid di kawasan Gegerkalong”, jawab Ali mantap.

“oh begitu”, kata Pak Dedi dengan ekspresi kecewa.

Ia lalu menoleh pada Pak Firman lalu bertanya padanya,”Fir, kamu ngga salah ingin mengenalkan Ali pada adikmu ?”.

Ali kaget mendengar ucapan tersebut, tubuhnya bergetar dan nafasnya terhenti sejenak. Ia serasa terkena petir disiang bolong.

“astagfirullahaladzim.memangnya salah kenapa, Pak ?”,Tanya Pak Firman pada ayahnya.

“ayah kira kamu membawa temanmu yang pekerjaannya setidaknya selevel dengan kamu, sebagai koki atau supervisor restoran.ini hanya tukang cuci piring !”, kata Pak Dedi dengan nada tinggi.

Mata Ali jadi berkaca – kaca mendengar ucapan itu. Ia tak kuasa membela diri dengan kata – kata.

Pak Firman lalu membalas,”Pak, memang Ali hanya tukang cuci piring, namun ia lelaki yang soleh dan baik. Lelaki seperti itu jarang ada dikota ini. Saya percaya ia bisa jadi imam yang baik buat Rina”.

“hah … imam yang baik ? memangnya si Rina bisa diberi makan ayat quran dan hadits ? bapak tahu gaji kamu berapa Fir sebagai koki, apalagi gaji Ali yang hanya sebagai tukang cuci piring”, seru Pak Dedi.

“Pak, kok tega sih berbicara seperti itu dihadapan Ali ? biarpun ia tukang cuci piring, insya allah rezekinya halal dan berkah. bisa saja dikemudian hari ia mendapat pekerjaan yang lebih baik dan gajinya lebih besar. Ingat Pak, hidup manusia itu sering bergiliran kadang diatas dan kadang dibawah”, balas Pak Firman.

“nggak mungkin Fir. Kamu dengar sendiri kan tadi Ali bilang ia pernah kerja sebagai Office Boy alias pesuruh dan Cleaning Service alias petugas kebersihan. Sekarang ia kerja jadi tukang cuci piring, artinya dimasa depan pun pasti ia akan dapat kerjaannya nggak jauh beda dari itu. Masih level bawah lah”, kata Pak Dedi dengan ketus.

“Tapi Pak, coba tanya dulu Rina. Kemarin ia berkata pada saya siap menerima Ali apapun keadaannya”, kata Pak Firman.

Ayah pak Firman lalu bertanya pada Rina, apakah ia mau menerima Ali yang pekerjaannya sebagai tukang cuci piring. Rina pun menunduk dan menganggukkan kepalanya pertanda setuju.

Pak Dedi kaget bukan kepalang melihat tingkah Rina seperti itu, matanya melotot dan wajahnya memerah seperti memendam amarah.

Karena gengsi dan tidak mau terlihat kalah serta malu dihadapan Ali dan Pak Firman, tiba – tiba ia bertanya pada Ali,”kamu punya motor,tidak ?”, tanyanya dengan tegas.

“Tidak Pak”, jawab Ali pelan.

“kamu bisa naik motor ?”,tanyanya lagi.

“Tidak Pak”, jawabnya lagi sambil tertunduk lesu.

“hah … kamu ga bisa naik motor ? Di Bandung sekarang sering macet, tiap hari Bapak mengantarkan Rina ke tempat kerjanya, capek sekali. Bapak ingin punya menantu yang punya motor agar bisa menggantikan peran Bapak yang setiap hari antar jemput Rina. Nak Ali kembalilah kesini kalau sudah punya motor !”, kata Pak Dedi dengan nada meninggi.

“Maaf Pak. Saat ini saya masih memiliki trauma pada motor. Dulu waktu kecil pernah melihat orang kecelakaan tepat dihadapan saya, motornya hancur dan pengendaranya tewas seketika. Sampai saat ini saya enggan belajar mengendarai motor dan belum memiliki motor karena terbayang terus trauma itu”, kata Ali.

Sejenak suasana menjadi hening dan sunyi. Semuanya terdiam dikursinya masing - masing.

“kalau begitu keadaannya, apa boleh buat. Nak Ali lupakan saja niat berkenalan dengan Rina, karena saya yakin diluar sana masih banyak lelaki yang lebih baik untuknya”, kata Pak Dedi.

“Baiklah Pak. Saya menerima keputusan bapak, jika itu memang pilihan yang terbaik untuk Rina. Saya do’akan semoga Rina bisa mendapatkan lelaki yang baik, terutama lelaki yang sesuai dengan keinginan Bapak”, balas Ali mencoba tegar.

Tiba – tiba Rina beranjak dari tempat duduknya sambil berurai air mata, ia berkata pada ayahnya,”Rina tidak menyangka ternyata ayah bisa sekejam itu pada kang Ali”. Ia pun berlari menuju kamarnya.

Melihat situasi yang sudah tidak kondusif untuk melanjutkan pembicaraan, Ali pun pamit pulang pada Pak Firman dan ayahnya. Saat akan meninggalkan pintu gerbang rumah, Pak Firman memanggilnya supaya menghentikan langkahnya. Dengan nafas terengah – engah, beliau meminta maaf pada Ali atas tindakan ayahnya tadi. Ia merasa malu telah mengundang Ali ke rumahnya dan bukannya keramahan yang didapatkan, malah caci maki pedas dari Pak Dedi.

Ali tersenyum sembari berkata,”tidak apa – apa Pak Firman. Wajar jika ayah anda memiliki keinginan seperti itu. Kejadian ini saya ambil hikmahnya saja. Tolong sampaikan salam saya pada Bapak anda, berkat beliau saya jadi termotivasi untuk belajar mengendarai motor”.

Didalam angkot menuju kostan, Ali merenungi pertemuan di rumah Pak Firman tadi. Begitu banyak pelajaran berharga yang bisa diambil hikmahnya.

“aku pulang ... tanpa dendam
Kuterima kekalahanku ... “

Potongan lirik lagu milik band Sheila on 7 diatas sangat cocok menggambarkan suasana hati Ali saat ini.

***

Jadwal kerja Ali direstoran memang berat. Ia masuk kerja tepat jam 11.00 WIB lalu istirahat pukul 15.00 sampai pukul 18.00 WIB. Ia masuk kerja lagi pukul 18.00 hingga waktu pulang pukul 22.00 WIB. Lamanya waktu istirahat yang mencapai 3 jam membuatnya jenuh jika hanya beristirahat direstoran saja tanpa kegiatan berarti. Untuk membunuh kejenuhannya, ia sering mengisi waktu istirahat dengan browsing di warnet.

Awalnya hanya untuk update status Facebook dan membalas comment serta messages yang masuk di inbox-nya. Namun akhir – akhir ini Ali mulai tertarik membuat tulisan pendek seperti cerpen dan ia pun mempostingnya di notes Facebook serta bergabung disitus blogger.com untuk mempublikasikan tulisan buatannya. Alhamdulillah, tak disangka tulisannya banyak diminati teman – teman Facebooknya. Tiap ia posting tulisan terbaru lalu mentagnya pada teman – temannya, cerpennya selalu kebanjiran komentar, kritik, saran serta sebagian lagi mengklik tanda “like” atau “suka“. Hal ini melecutnya sebagai pribadi yang optimis dan bertekad makin serius memasuki dunia tulis menulis.

***

Setiap menerima gaji di awal bulan, Ali selalu membaginya menjadi 4 bagian. Pertama, ia kirim sebagian uang untuk orang tuanya di Sukabumi. Kedua, untuk dikeluarkan zakat,infak,sedekahnya (ZIS) ke Rumah Zakat Indonesia, sebuah lembaga amil zakat independen dibawah naungan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Ketiga, untuk bayar kostannya serta yang keempat untuk biaya kehidupan sehari – harinya. Meski gaji tidak besar, kedisiplinan mengelola keuangan seperti itu terbukti ampuh mencegah “besar pasak daripada tiang”.

Ahad siang, Ali sudah tiba di Rumah Zakat Indonesia untuk mengeluarkan zakat, infak dan sedekah hasil kerjanya sebulan. Ia langsung disambut seorang akhwat berjilbab panjang yang sopan lalu menyuruhnya duduk dikursi warna hijau. Sudah beberapa kali ia ke tempat itu, namun baru kali ini melihat akhwat tersebut. “mungkin ia karyawan baru di lembaga ini” bisik hati kecilnya.

“assalammu’alaikum “ sapa akhwat tersebut.

“wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh” jawab Ali.

“perkenalkan saya Ira Puspita, karyawan baru disini menggantikan mbak Mila yang sedang cuti hamil. Ada yang bisa dibantu, mas ?” tanyanya dengan ramah.

“saya ingin mengeluarkan ZIS bulan ini” jawabnya dengan pelan.

“namanya siapa, mas ? tanyanya lagi.

“Muhammad Ali Firdaus”

Ira lalu melihat data dikomputernya sebentar lalu berkata,” Muhammad Ali Firdaus tinggal di Jl. Sukasari No.6 Bandung, betul ?”

“benar sekali, mbak”

Ali pun langsung menyerahkan sejumlah nominal uang kepada Ira dan dicatat dikomputer. Setelah itu mereka berdua berdo’a semoga rezeki Ali makin bertambah dan mendapat berkah dari Allah SWT serta semoga harta yang dititipkan bisa menjadi ladang amal dan bermanfaat untuk kemajuan umat islam. Setelah selesai memanjatkan do’a, Ali pun pulang dengan wajah sumringah.

Malam yang semakin larut ternyata belum membuat Ali mengantuk, tiba – tiba bayangan wajah Ira Puspita yang tak lain karyawan lembaga amil zakat berkelebat dipikirannya.
“astagfirullahaladzim, kenapa aku jadi memikirkannya ya ?” tanya Ali pada dirinya sendiri. Ia pun mencoba menghalau hal itu dengan berdzikir hingga tak sadar terlelap tidur.

***

Ali membuka akun Facebooknya dan merasa kaget ada 1 permintaan menjadi teman dan 1 messages. Ia mengkonfirmasi permintaan jadi teman itu dan langsung melihat profil teman barunya tersebut. Namanya Heru Gunawan, berprofesi sebagai penulis, pengajar dan editor. Melihat profilnya yang luar biasa, Ali pun segera membaca messages darinya.

“assalammu’alaikum akhi Ali. Perkenalkan nama saya Heru Gunawan, siang ini sedang browsing di internet dan tak sengaja menemukan blog anda yang unik sekali. Saya terkesan dengan cerpen anda yang berjudul “Ustadz Kupu – Kupu”. Jika ada waktu senggang, harap segera telpon atau sms ke no 089898989898 ada hal yang ingin saya bicarakan. Wassalammu’alaikum”.

Tanpa pikir panjang, Ali langsung menelpon nomor yang tertera pada messages tersebut.

“halo assalammu’alaikum”, Tanya Ali

“wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh. Ini dengan mas Muhammad Ali Firdaus penulis cerpen itu ya ?” kata Heru Gunawan malah balik bertanya.

“iya benar. Ada apa Pak ? kok tiba – tiba menyuruh saya menelpon anda ?”

“hehe … begini mas, saya sudah baca semua cerpen – cerpen anda didalam blog. Setelah saya hitung ada 25 cerpen, saya ingin mengajak anda untuk bekerja sama”.

“maksudnya bekerja sama bagaimana ?” Tanya Ali makin penasaran.

“mas Ali sudah tahu kan kisah tulisan Raditya Dika diblognya yang berjudul “Kambing Jantan” setelah dibukukan ternyata laris manis dipasaran hingga akhirnya difilmkan dan diputar dibioskop. Nah saya ingin bekerja sama untuk membukukan kumpulan cerpen buatan mas Ali, saya yakin tulisannya akan laris dipasaran”

“Ok Pak. Saya siap bekerja sama dengan bapak, sudah lama saya memendam keinginan membukukan kumpulan cerpen – cerpen yang tersimpan diblog”

Setelah pembicaraan ditelpon tersebut, mereka berdua langsung mengadakan pertemuan. Ali bersyukur Allah mempertemukannya dengan Pak Heru Gunawan. Berkat bantuan beliau, cerpen – cerpennya bisa dibukukan dan dijual pada masyarakat luas. Alhamdulillah sambutan masyarakat ternyata positif sekali, mereka sangat antusias menyambut kehadiran buku tersebut hingga dalam kurun waktu 3 bulan sudah mendapat predikat “best seller”. Seiring berjalannya waktu, Ali pun mengundurkan diri dari restoran. Ia memilih untuk fokus di dunia kepenulisan.

***

Hubungan Ali dan Pak Heru Gunawan kian akrab hingga lebih dari sekedar rekan bisnis, mereka sudah seperti sahabat karib. Disuatu sore, Pak Heru mengajaknya silaturahim ke rumahnya sekalian ingin memperkenalkan Ali pada anak perempuannya semata wayang. Awalnya Ali sempat menolak dengan halus karena masih trauma pada pertemuannya dengan Rina, adiknya pak Firman teman kerjanya di restoran. Namun setelah dibujuk untuk kesekian kalinya, hatinya pun luluh dan bersedia menerima tawaran perkenalan tersebut.

Diruang tamu yang lega serta dikelilingi lemari berisi buku tersebut Ali terduduk sambil berharap takdir akan menuntunnnya pada hal baik dalam pertemuan kali ini. Pak Heru datang menemui Ali bersama seorang perempuan muda berjilbab panjang berwarna biru muda. Mereka berdua duduk tepat dikursi yang terletak dihadapan Ali. Ketika menatap wajah perempuan anggun itu, Ali merasa keheranan. Entah kenapa ia merasa pernah bertemu dengan perempuan itu namun lupa pernah bertemu dimana.

“Ali, perkenalkan ini Ira Puspita, anak Bapak satu - satunya” kata Pak Heru Gunawan membuka percakapan.

“Ira Puspita, bukankah itu nama akhwat yang pernah aku temui di lembaga amil zakat dulu ?” bisik hati Ali.

Ia benar – benar kaget ketika mendengar nama itu disebut, ia pun lalu mengangkat kepalanya dan langsung menatap wajah perempuan itu. Tak disangka perempuan itu pun sedang mengarahkan p-andangannya ke wajah Ali. Ketika mereka berdua beradu pandangan, sorot mata keduanya berubah seolah tak percaya bisa bertemu ditempat itu.

“astagfirullahaladzim, ini kan mas Muhammad Ali Firdaus. Iya, kan ? Tanya Ira.

“iya benar. Subhanallah, ternyata mbak Ira ini putrinya Pak Heru ya.” Jawab Ali.

Pak Heru tersenyum melihat tingkah mereka berdua lalu berkata,”Alhamdulillah, ternyata kalian sudah saling mengenal ya ?” Tanya Pak Heru dengan senyum mengembang diwajahnya.

“iya ayah. Mas Ali ini adalah donator tetap di Rumah Zakat Indonesia. Tiap awal bulan selalu menitipkan sebagian rezekinya disana” jawab Ira dengan lancar

“syukurlah kalau begitu. Ayah sengaja mengajak Ali kesini untuk berkenalan denganmu sekaligus ingin menjadikan ia sebagai calon menantu bapak. Bagaimana, kamu setuju ?”

Suasana menjadi hening, sunyi tak ada suara sedikit pun. Ali merasa cemas dan hatinya bergetar tidak karuan. Ia berusaha menenangkan diri namun tidak bisa, ia berharap jawaban dari Ira tidak akan mengecewakannya. Ali dan Pak Heru sama – sama menatap Ira.

Dengan gerakan yang halus, Ira menganggukkan kepalanya dan wajahnya terlihat memerah.
Ali hanya bisa tersenyum melihat kejadian itu dan berkata didalam hatinya,”Alhamdulillah Yaa Allah”.

Pak Heru senang dengan jawaban Ira tersebut, ia lalu berseru,”Alhamdulillah. terima kasih anakku. Bapak percaya Ali bisa menjadi pasangan yang tepat untukmu.

***

Setelah pertemuan itu, Ali memboyong keluarganya dari Sukabumi untuk bersilaturahim ke rumah Pak Heru. Alhamdulillah, acara khitbah pun lancar hingga akhirnya 2 minggu kemudian diadakan acara walimah yang sederhana dihadiri kerabat, teman kerja, teman dunia maya kedua mempelai serta pembaca buku Ali yang ada di Bandung.

Roda kehidupan terus berputar, Kehidupan Ali yang selalu dirundung duka kini berganti dengan cerita penuh suka cita.

Minggu, 12 Desember 2010

Sambil Menyelam, Cari Mutiara (Kisah Taaruf)

Akhir bulan maret lalu, Ali mendapat banyak ucapan “selamat ulang tahun”, “happy birthday” atau “met milad” dari kawan – kawannya di Facebook (FB). Hal itu dikarenakan profilnya disitus jejaring sosial tersebut menampilkan tanggal lahir sehingga otomatis ketika hari itu tiba, semua kawan – kawan mengetahuinya di Beranda/Home FB mereka.Biasanya, ucapan selamat selalu ditambahi “kata – kata bersayap” berupa do’a maupun harapan pada Ali ditahun mendatang.

Kata – kata bersayap tadi kebanyakan intinya sama yaitu mendo’akan Ali agar panjang umur, sehat selalu, banyak rezeki dan … segera mendapat jodoh !

Harusnya hari ulang tahun jadi hari yang membahagiakan, namun bagi Ali tidak. Ba’da dzuhur ia masih menyendiri di masjid memegang tasbih sambil berdzikir menyebut asma Allah. Setelahnya ia berdo’a seraya bersyukur karena telah diberi umur panjang, badan yang sehat serta rezeki yang cukup. Ia juga memohon ampun pada Allah atas dosa maupun kesalahannya dimasa lalu.

Tiba – tiba ia teringat tulisan teman – temannya yang berharap ia segera mendapat jodoh. Ia pun lalu menambahi do’anya dengan ucapan,”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Do’a yang diucapkan Ali tersebut merupakan ayat ke 74 dari surat Al – Furqon dalam Al Quran. Ia pernah mendengar dalam ceramah Aa Gym jika ingin segera mendapat jodoh, ucapkanlah ayat tersebut saat ba’da shalat wajib dan tahajud. Sudah berulang kali Ali berdo’a namun hingga usianya kini telah mendekati kepala tiga, belum ada tanda – tanda akan datangnya “bidadari” pendamping hidupnya.

Tiba – tiba dari sebelah Ali terdengar suara orang mengucapkan salam,“assalammu’alaikum”, katanya. Ali pun segera membalikkan badan dan menolehkan wajahnya ke sebelah kanan sambil menjawab,”wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh”.

Ternyata yang menghampiri Ali adalah sahabatnya yang bernama Rahmat Solihin, namun biasa dipanggil Mamat.

Ia membawa secarik kertas lalu menyerahkannya pada Ali sambil berkata,”Li, ada undangan pengajian bulanan dari Ustadz Soefyan di Pesantrennya di Kota Hujan. Kamu mau ikut, nggak ?”. Sejenak Ali membaca surat undangan pengajian bulanan tersebut lalu menjawab,”Ustadz Soefyan yang sering mengisi pengajian rutin dimasjid ini mengajak kita ke Pesantrennya ya.wah aku harus ikut nih, lagipula aku pengen banget merasakan suasana pengajian di Pesantren”, jawab Ali penuh semangat.

“kalau kamu mau ikut, nanti sore kita berangkat bersama Ustadz Yayat”, kata Rahmat.

”wah ... kalau Ustadz Yayat ikut, aku tambah semangat nih pengen segera pergi ke Kota Hujan. Mat, tolong antar aku kerumah Ustadz Yayat sekarang ya”, kata Ali dengan semangat membara.

“mau ngapain ke rumah Ustadz Yayat sekarang ?”, Tanya Rahmat yang penasaran melihat tingkah Ali .”aku mau membicarakan sesuatu yang penting bersama beliau … hehe”, kata Ali lagi.

Setelah mengendarai Jupiter MX biru selama sepuluh menit, mereka berdua tiba dirumah Ustadz Yayat. Tuan rumah segera mempersilahkan mereka masuk kedalam rumahnya yang sederhana lalu mereka berbicara enam mata diruang tamu.

Ali menceritakan keinginannya untuk ikut menghadiri pengajian bulanan yang diadakan Ustadz Soefyan di Pesantrennya di Kota Hujan sambil meminta bantuan Ustadz Yayat membantunya mencarikan jodoh disana.

“jadi tujuan utama kamu kesini pengen minta dicarikan jodoh disana, Li ?”,tanya Ustadz Yayat.

“iya Pak Ustadz. Hari ini tak terasa usia saya sudah mendekati kepala tiga dan ingin segera punya istri”, jawab Ali.

Ia pun mulai menceritakan masa lalunya yang suka memendam perasaan cinta jika menyukai lawan jenisnya. Hingga akhirnya wanita yang dicintainya itu pun menikah dengan laki – laki lain. Ali sedih dan sering menyalahkan dirinya yang kurang berani namun disatu sisi yang lain ia pun sadar mungkin sudah takdirnya harus begitu.

Ustadz Yayat pun berkata bahwa ia punya seorang teman yang merupakan pengurus di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan. Temannya itu memiliki anak perempuan yang sudah siap menikah dan masih menunggu laki – laki yang hendak meminangnya. Nama temannya itu adalah Ustadz Arifin, ia memiliki 8 anak dan anak keenamnya lah yang akan coba dikenalkan pada Ali.

Ali pun merasa beruntung.

Keinginannya dicarikan jodoh bisa terlaksana berkat bantuan Ustadz Yayat.

“Li, walaupun kamu hendak mencari jodoh atau taaruf disana, tetap tujuan utama adalah mengikuti pengajian bulanan Ustadz Soefyan. jangan lupa itu ya”, pinta Ustadz Yayat.

“iya Pak. Ibaratnya sambil menyelam, minum air ... pengajiannya diikuti, sekalian cari jodoh.hehe”, jawab Ali sambil tersenyum lebar.

“Dasar, kamu ini. Kalau begini caranya sih bukan menyelam sambil minum air. Tapi lebih tepatnya sambil menyelam, cari mutiara ! hehehe … “, kata Ustadz Yayat sambil tertawa. Ali dan Rahmat pun ikut tertawa mendengar ucapan beliau tersebut.

Ba’da ashar mereka bertiga berangkat ke Kota Hujan dengan mengendarai motor. Karena Ali tidak memiliki motor, ia pun dibonceng Rahmat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, akhirnya mereka sampai di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan menjelang shalat magrib. Setelah mengikuti shalat berjamaah, mereka bertiga diajak keliling Pesantren oleh Ustadz Arifin. Secara pribadi Ali merasa kagum dengan suasana Pesantren tersebut. Dimana – mana terdengar lantunan ayat suci Al quran yang sedang dibaca para santri dan santriwati.

Ba’da isya mereka mengikuti pengajian bulanan yang diadakan Ustadz Soefyan. Subhanallah jemaahnya banyak sekali, rupanya selain santri dan santriwati yang belajar di Pesantren tersebut, ikut hadir pula masyarakat setempat serta para alumni lulusan Pesantren yang telah menyebar ke berbagai kota.

Selesai pengajian bulanan, mereka bertiga dipersilahkan Ustadz Arifin untuk beristirahat diruang khusus tamu Pesantren.

Sebelum pamit pulang, Ustadz Arifin berkata pada Ustadz Yayat,”Pak Ustadz, besok sekitar jam 10 pagi ada orang yang akan mengantar kalian ke rumah saya. Tolong datang ya, kita silaturahim sekalian menjalankan proses taaruf saudara Ali”, katanya.

“insya Allah”, jawab Ustadz Yayat.

Keesokan harinya, diruang khusus tamu Pesantren nampak Ali beserta Rahmat dan Ustadz Yayat sedang menikmati kopi panas ditemani roti kukus yang disediakan pengurus Pesantren untuk mereka.

Tak lama kemudian datanglah lelaki seumuran Ali datang menjemput mereka bertiga. Sepanjang perjalanan menuju rumah Ustadz Arifin, Ali tak henti – hentinya berdo’a agar proses taaruf yang akan dilaksanakan hari ini berjalan lancar.

“Yaa Allah, lancarkanlah hari ini ... jangan sampai gagal karena aku tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi untuk bertemu dengan jodohku … amin”, bisik Ali dalam lubuk hatinya yang terdalam.

Setelah melewati areal persawahan yang hijau kekuningan serta jalan yang berkelak – kelok naik turun, akhirnya mereka sampai di depan rumah Ustadz Arifin yang asri nan rindang. Ketika melihat rumah Ustadz Arifin, Ali jadi teringat kondisi rumah kakek dan neneknya di Kota Intan yang keadaannya tak jauh berbeda dengan rumah tersebut. Rumah bercat hijau dikelilingi pagar bambu berlantaikan keramik putih dan memiliki halaman luas yang ditanami aneka pepohonan pasti membuat penghuni rumah betah mendiaminya.

Sesaat Ali menghirup sejuknya udara pagi itu, lalu tiba – tiba Ustadz Yayat menepuk pundaknya seraya berkata,”sudah siap bertemu calon bidadarinya ?”, Tanya sang Ustadz. “insya Allah siap Pak”, jawab Ali dengan mantap.

Dag … dig … dug …

Begitu memasuki gerbang rumah Pak Arifin, detak jantung didada Ali makin berdegup kencang. Ia merasakan kegugupan yang luar biasa.

“kamu kenapa, Li ? tanya Rahmat.

“nggak Mat. Tapi kok aneh ya tubuhku tiba – tiba gemeteran seperti ini”, jawab Ali.

“nyantai saja ... kamu kan nggak akan masuk kedalam kandang singa ... cuma masuk kerumah camer alias calon mertua ... hihihi ,” kata Rahmat sambil tertawa melihat kegugupan Ali.

“wajar kalau gugup, itu biasa. Niatkan saja kedatangan kita kesini untuk ibadah, silaturahim. pasti langkah kakimu akan jadi ringan”, seru Ustadz Yayat sambil memegang pundak Ali.

“iya Pak. Sudah aku putuskan untuk terus maju. Sekarang atau tidak sama sekali !”, jawab Ali dengan serius.

“nah gitu dong, baru itu Ali yang saya kenal”, balas Ustadz Yayat sambil tersenyum.

Dalam hati Ali berbisik,”semoga saja Allah nanti melancarkan lidahku saat berhadapan dengan Pak Ustadz Arifin … amin”.

“Assalammu’alaikum”, seru Ustadz Yayat sambil mengetuk pintu rumah.

“wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh”, balas seorang laki – laki kira – kira usianya 30 tahunan. Ia membukakan pintu dan mempersilahkan semuanya untuk duduk diruang tamu.

“mungkin yang tadi membukakan pintu adalah kakaknya calonmu, Li”, bisik Rahmat.

“iya”, jawab Ali pendek.

Tak lama kemudian datanglah seorang perempuan berjilbab warna biru menyuguhkan teh manis dan kue kering pada mereka bertiga.

Ali menatapnya dan hatinya berbisik lagi,”biasanya kalau taarufan, calonnya suka disuruh membawakan minuman pada tamu. Apa mungkin perempuan tadi, ya ? ah, kayaknya bukan. Kalau dilihat secara kasat mata, usia perempuan tadi mungkin sekitar 28 tahunan. Sedangkan kata Ustadz Yayat usia calonku antara 20 – 22 tahun”.

Saat yang mendebarkan pun dimulai.

Pak Ustadz Arifin datang menemui mereka dan duduk dikursi panjang bersama istrinya.

Dengan ramah beliau mempersilahkan kami memakan makanan ringan yang baru saja disuguhkan.

Ustadz Yayat pun lalu memperkenalkan dua orang yang dibawanya saat itu, yaitu Ali dan sahabatnya, Rahmat.

“nak Ali sudah berapa kali ke Kota Hujan ? kata Ustadz Arifin membuka percakapan.

“sudah dua kali dengan sekarang, Pak”, jawab Ali.

Dulu, Ali pernah ke Kota Hujan mengantar pamannya yang menikah dengan santriwati dari Pesantren yang sama. Namun itu sudah lama sekali, waktu Ali masih duduk dibangku kelas 2 SMP.

Lalu percakapan pun berlanjut dengan saling memberi informasi tentang keadaan pribadi dan kedua keluarga.

Awalnya Ali merasa minder juga mengetahui keluarga Pak Arifin ternyata keluarga besar yang kental agamanya. Bahkan Pak Ustadz Arifin dan istrinya sudah menunaikan ibadah haji tahun lalu. Bandingkan dengan keadaan keluarga Ali yang biasa - biasa saja. Ayahnya hanya buruh bangunan sedangkan ibunya ibu rumah tangga. Jika Pak Ustadz Arifin seorang kyai, ayah Ali jauh dari itu.

Namun kemudian ia berpikir, mungkin ada hikmah dibalik semua ini.

“nak Ali kerja dimana ?”, tanya istri Pak Ustadz Arifin.

“saya kerja di restoran bu”

“Sudah lama ?”

“iya bu, kurang lebih 2,5 tahun”

“wah, berarti nak Ali pintar masak dong ?”

“nggak juga bu, soalnya saya bukan koki ... tapi ... ah, saya malu menyebutkannya”, jawab Ali sambil memerah wajahnya.

“lantas sebagai apa ?” tanya istri Pak Ustadz Arifin makin penasaran.

“kalau kata teman – teman sih bu, kerjaan saya ini mirip seorang DJ (disc Jockey) di diskotik ... tapi ... sebenarnya bukan itu, bu”

“astagfirullahaladzim ... jadi nak Ali tukang nyetel musik itu ya ?” tanya bu Arifin makin penasaran.

“bukan bu ... saya bilang tadi cuma mirip ... kalau di restoran itu, saya kerja sebagai tukang cuci piring. Kerjaannya kan mirip DJ, Cuma kalo DJ yang diputarnya piringan hitam musik, sedangkan saya memutar piring kotor yang belepotan bumbu dan sisa makanan ... hehe”, kata Ali sambil tertawa kecil dan menundukkan kepalanya.

“oh begitu ya ... kira ibu DJ yang suka nyetel musik di diskotik. nak Ali, ada – ada aja nih”, kata ibu sambil senyum melirik Ustadz Arifin.

Pak Ustadz pun berkata,”nak Ali nggak usah malu mengakui kerja seperti itu. kalau kerja keras terus, insya Allah nanti bakal naik jabatan jadi tukang masak di dapur. Bapak punya saudara yang kerja di Kota Kembang. Dulu ia kerja sebagai cleaning service di restoran, sekarang ia jadi koki karena rajin belajar masak pada koki disana kalau lagi ada waktu istirahat. Bapak tidak mempermasalahkan kerja nak Ali sebagai apa di Kota Kembang, asalkan bersumber dari yang halal dan dibelanjakan untuk tujuan halal, bapak ridha nak Ali jadi calon menantu bapak”.

Ali merasa lega mendengar ucapan Ustadz Arifin seperti itu. Di Kota Kembang banyak wanita yang memandang sebelah mata padanya karena ia kerja sebagai tukang cuci piring bergaji kecil.

“insya Allah Li, kalau kamu sudah menikah rezekimu pasti akan berlipat ganda. Bukan begitu Pak Ustadz “, tanya Ustadz Yayat pada Ustadz Arifin.

“Betul sekali. Dengan menikah, rezeki tidak hanya datang melalui kamu sendiri, tapi bisa juga datang dari istri, keluarganya bahkan banyak rezeki yang tak disangka – sangka akan menghampirimu. Hal itu sudah dijamin Allah dalam Al Quran surat An Nuur ayat 32 yang artinya,” Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Ah, kegugupan Ali semakin hilang mendengar Pak Ustadz Arifin berkata seperti itu. Tak jarang seorang pemuda yang siap menikah gagal mewujudkan pernikahannya karena saat taaruf keluarga sang istri materialistis. Mereka ingin memiliki calon menantu yang kaya, kerja mapan dan berkendaraan bagus, minimal punya motor.

“nak Ali sendiri punya kriteria calon istrinya seperti apa ?”, tanya Ustadz Arifin.

Ali terdiam cukup lama, kemudian berkata,”saya tidak punya kriteria calon istri harus seperti apa, namun saya ingin mengikuti sabda Rasulullah Muhammad SAW yang menyarankan kita untuk memilih calon pasangan hidup dari agamanya yang baik”, jawab Ali setengah diplomatis.

“namun dalam hati, saya juga punya keinginan bahwa seorang istri saya nanti haruslah berjilbab panjang, taat pada suaminya dan siap hidup sederhana. Begitu saja Pak”, sambung Ali.

“oh begitu. Nak Ali nggak pingin punya istri yang cantik ?”, tanya Ustadz Arifin hendak menguji Ali.

“bagi saya cantik akhlak lebih penting daripada sekedar cantik fisik. Di Kota Kembang banyak perempuan yang cantik fisiknya, namun saya kesulitan mencari yang cantik agama dan akhlaknya”, jawab Ali dengan mantap.

“jadi Ali rela jauh – jauh datang kemari demi mencari wanita shalehah ya ? subhanallah. Semoga Allah meridhai niat sucimu,nak”. Kata Ustadz Arifin terharu.

Dikaca jendela, Ali melihat sekumpulan wanita berjilbab berwarna biru yang duduk dibangku panjang. Ada yang sedang memegang bayi, balita dan seorang sedang membaca buku. Ali jadi penasaran, kira – kira calon istrinya yang mana, ya ?

Rupanya tingkah Ali yang sedang menengok jendela terlihat Pak Ustadz Arifin, beliau lalu bertanya,”nak Ali sudah tak sabar ya ingin bertemu anak bapak yang nantinya insya Allah jadi calon istrimu ?”

“iya Pak, kalau boleh saya ingin bertemu dengannya walau sebentar”, jawab Ali sambil tersipu malu.

“hehehe ... ia tidak ada diantara perempuan yang duduk diluar itu, mereka itu kakak – kakaknya. Bapak kan punya 8 anak, 6 perempuan dan 2 laki – laki. Calonmu itu anak yang keenam”, katanya.

“lalu kalau calon saya ada dimana,Pak ?”, tanya Ali yang jadi penasaran.

“sebelumnya, memang nak Ali kenapa penasaran sekali ingin melihat calonnya ? takut anak bapak tidak cantik ya ? atau takut ia benjol atau gepeng gitu ya ? hahaha”, katanya sambil tertawa.

Ali tak bisa berkata apa – apa, ia hanya bisa menundukkan kepalanya.

Tiba – tiba istri Pak Ustadz Arifin beranjak dari kursi lalu masuk ke ruang tengah rumah, tak lama kemudian ia datang lagi bersama seorang perempuan muda berjilbab panjang warna putih dan bergamis pink alias merah jambu.

"ini anak bapak yang nantinya jadi calon istri nak Ali, coba lihat sekarang”, kata Pak Ustadz Arifin.

Ali yang tertunduk langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke sebelah kiri. Dilihatnya sesosok perempuan anggun dan berparas ayu. Saat matanya beradu pandang dengan mata perempuan tersebut, keduanya langsung menundukkan kepalanya.

Desir – desir halus menyusup kedalam relung hati Ali, rasanya damai sekali.

“Yaa Allah, begitu indah perempuan ciptaanMu itu”, bisik hatinya.

“bagaimana nak Ali, sudah puas melihat anak bapak ? taarufnya mau berlanjut atau tidak ?”, Tanya Ustadz Arifin membuyarkan ketenangan hatinya.

“iya Pak, lanjutkan saja”, jawab Ali pendek namun tegas.

“Alhamdulillah”, seru hadirin yang ada diruangan tersebut.

Ali pun diberi tahu bahwa calonnya itu bernama Siti Aminah, usianya baru 22 tahun dan November nanti usianya beranjak jadi 23 tahun. Kesehariannya mengajar di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan.

“nak Ali sudah punya rencana mau menikah kapan ?”, tanya istri Pak Ustadz Arifin.

“saya sih sudah punya rencana ingin menikah tanggal 10 – 10 – 2010”, jawab Ali

“alhamdulillah waktunya sebentar lagi. kalau boleh tahu kenapa ingin tanggal itu ? apa nak Ali ada perhitungan khusus “, tanyanya lagi.

“tidak bu. Saya tidak percaya pada penanggalan orang tua dulu yang menyebutkan ada anggapan hari baik atau hari buruk. saya memilih tanggal itu karena merasa unik saja, angkanya serba 10”, jawab Ali lagi.

“oh begitu. Syukurlah, ibu tidak mau jika nak Ali memiliki kepercayaan pada hari baik atau hari buruk seperti orang tua dulu. namun jika alasannya karena unik tadi, ibu bisa memahaminya.”

Selesai acara ngobrol perkenalan, mereka pun lantas mengajak Ali dan yang lainnya makan siang bersama. Usai makan, mereka berkumpul lagi diruang tamu.

“Bapak dan ibu, boleh saya memberi sesuatu untuk calon saya ?”, tanya Ali pada Pak Ustadz Arifin bersama istrinya.

“mau memberi apa nak Ali ? tak usah merepotkan nak Ali yang sudah jauh – jauh datang kesini”, jawabnya.

“nggak merepotkan Pak. Ini saya mau memberikan sebuah cerpen atau cerita pendek karya saya yang berjudul “Ustadz kupu – kupu” pada calon istri saya dan sebuah VCD yang didalamnya ada foto – foto saya waktu kecil hingga sekarang termasuk foto saya bersama keluarga di Kota Kembang. Hal ini saya lakukan agar kelak ia bisa lebih mengenal saya lewat karya – karya saya, maklum lah Pak saya punya hobi menulis cerpen dan memotret”, kata Ali sambil mnyerahkan sebuah cerpen dan VCD pada Pak Ustadz Arifin.

“saya terima dengan baik sesuatu dari nak Ali ini, mudah – mudahan bermanfaat dan bisa membuat kalian semakin saling mengenal satu sama lain”, katanya.

“syukurlah kalau nak Ali punya hobi positif menulis, jadikan tulisannya sebagai ladang dakwah lewat media massa. Bapak mendukung dakwah lewat tulisan yang sekarang jadi kegemaran nak Ali”, sambung Pak Ustadz lagi.

“alhamdulillah.terima kasih banyak Pak”.

Adzan dzuhur telah berkumandang, mereka pun segera shalat berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumah sang Ustadz. Usai shalat, Ali dan rahmat yang diwakili Ustadz Yayat berpamitan untuk pulang. Insya Allah mereka akan kembali lagi dilain hari untuk melanjutkan ke tahap khitbah lalu walimah.

Suasana sangat cerah saat itu, secerah hati Ali.

“Alhamdulillah Yaa Rabb ... Engkau telah melancarkan pertemuan hari ini”, do’a yang terlantun dari hati Ali yang tulus.

Diperjalanan pulang menuju Kota Kembang, Ustadz Yayat bertanya Pada Ali,”Bagaimana Li, ? puas dengan acara taarufannya ?”

“alhamdulillah, puas banget Pak. Benar – benar ibarat sambil menyelam, cari mutiara. Alhamdulillah keduanya lancar ... pengajian bulanan diikuti, cari jodoh berhasil ! hehehe”, jawab Ali sambil tertawa.

Rabu, 08 Desember 2010

H.A.M.I.L (Sesuatu Yang Membahagiakan)

Setelah beberapa minggu menikah, Ali merasakan ada sesuatu yang berubah dari istrinya. Ia jadi lebih mudah merasa lelah dan capek, sering buang air kecil serta tidak haid !

“Ya Allah, apakah ini pertanda istri hamba sedang hamil ?”, tanya hatinya pada Yang Maha Kuasa.

Setelah Googling dengan kata kunci “ciri hamil”, muncullah beberapa website dan blog yang berisi informasi ciri – ciri wanita hamil secara umum maupun secara medis. Ali membaca satu persatu tulisan tersebut lalu mengambil kesimpulan bahwa mungkin saat ini istrinya tengah mengandung buah hati mereka.

Ia pun lalu bertanya pada rekan kerjanya yang sudah menjadi seorang ibu perihal ciri – ciri wanita hamil dan mendapat jawaban yang tak jauh dari tulisan hasil Googling. Mereka pun menyarankan Ali untuk segera membeli Testpack, sejenis alat untuk mengetes kehamilan yang banyak dijual di Apotek.

Sepulang kerja, Ali pun segera bergegas ke Apotek yang letaknya tak jauh dari rumah kontrakannya. Saat hendak memasuki pintu Apotek, tiba – tiba ia merasa segan dan malu untuk memasukinya. Sejenak ia berpikir apakah pantas seorang laki – laki membeli Testpack ? biasanya kan wanita yang membeli alat seperti itu.

Namun hati kecilnya kemudian berbisik,”kenapa harus malu ? kamu membeli testpak untuk mengetahui hamil atau tidaknya istri sah kamu. Bukan membeli Testpack untuk mengetes hamil atau tidaknya pacar atau selingkuhan”.

Tiba – tiba muncul keberanian dalam jiwanya setelah mendengar bisikan hati kecilnya tersebut. Jika tadi ia merasa malu, kini ia malah bangga jika membeli Testpack lalu diberikan pada istri tercintanya nanti.

Ternyata walaupun Testpack metode pengetesannya sama melalui urine, namun harga dan jenisnya bisa berbeda – beda. Ali memutuskan untuk membeli Testpack yang termurah saja, disesuaikan dengan isi dompet. hehehe ...

“assalammu’alaikum”, kata Ali sambil mengetuk pintu rumah kontrakannya.
“wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh”, jawab istri Ali sambil membuka pintu lalu melepas tas dan sepatu Ali.

Ali tersenyum melihat istrinya yang baik itu lalu mengecup keningnya.
“Maafkan Abi yang pulangnya agak malam ya, tadi Abi pergi ke Apotek dulu”
Istri Ali tiba – tiba mengernyitkan keningnya merasa keheranan lalu bertanya,”memangnya Abi beli apa di Apotek ?”
“bukan obat, tapi “sesuatu yang bisa membahagiakan kita”, jawab Ali setengah bercanda sambil tersenyum lebar.
“iiiih Abi, udah mulai lagi deh bikin ummi penasaran ... jahat !”, katanya sambil mencubit tangan kanan Ali.

Ali malah tertawa melihat tingkah istrinya tersebut lalu memeluknya sambil berkata,”nanti Abi beritahu apa yang dibeli di Apotek tadi, sekarang kita makan malam bersama dulu ya”

Usai makan malam bersama, Ali pun menceritakan pada istrinya bahwa tadi ia membeli Testpack di Apotek. Ali pun memberitahukan manfaat Testpack tersebut untuk mengetes kehamilan pada perempuan. Ali menyalakan komputernya lalu memasukkan flashdisk dan segera memindahkan beberapa tulisan tentang kehamilan ke harddisk.

Tak lama kemudian Ali lalu membuka tulisan berjudul,”ciri – ciri wanita hamil” dan mengajak istrinya untuk membaca bersama.
“coba ummi renungkan sejenak setelah membaca ciri – ciri wanita hamil menurut tulisan tadi, adakah kesamaannya dengan yang ummi rasakan saat ini ?”, tanya Ali.
“iya, ada beberapa ciri yang persis ummi rasakan sekarang, tapi ada juga sebagian yang enggak”, jawab istrinya.

“tidak perlu semua cirinya terasa. jika sebagian saja ciri tersebut sudah ummi rasakan, itu berarti mengindikasikan ummi memang sedang hamil. Makanya untuk memastikannya Abi beli Testpack, tolong segera digunakan ya”, saran Ali.

Wajah istri Ali memerah, ia pun langsung pergi ke kamar mandi membawa Testpack dan wadah kecil untuk menampung urinenya.

“Dag ... dig ... dug”, detak jantung Ali semakin kencang. Ia merasa penasaran sekali dengan hasil Testpack tersebut. Ia membaca keterangan di kemasan Testpack yang menyatakan jika setelah dites urine keluar dua garis merah, itu berarti perempuan tersebut positif hamil. Namun jika yang muncul hanya satu garis berarti negatif alias tidak hamil. Serta jika tidak muncul garis, berarti gagal alias pengetesannya tidak berhasil.

Sayup – sayup terdengar suara istri Ali dari kamar mandi memanggil namanya,”Abi, ini ummi udah berhasil menggunakan Testpacknya.tolong dilihat hasilnya ya”.
Ali memandang kearah pintu kamar mandi, dilihatnya tangan sang istri sedang memegang Testpack.

Entah kenapa tiba – tiba kaki dan badan Ali bergetar hebat, ia merasakan kegugupan yang luar biasa. Keringat dingin mengalir halus disekujur tubuhnya. Ia pun memberanikan diri meraih Testpack tersebut dari tangan sang istri lalu melihatnya dengan sangat teliti.

Ali tersenyum lebar, matanya melotot setengah tak percaya dengan hasil dari Testpack itu.

“ummi, ayo segera keluar kamar mandi.ada kabar baik nih”, kata Ali.
“iya, tunggu ummi mau membersihkan diri dulu”, jawabnya.
Saat sang istri tercinta keluar dari kamar mandi, Ali langsung menciumnya lalu berteriak,”alhamdulillah ... allahu akbar”
Ia pun mendekap perut sang istri lalu berkata,”ummi, tadi Abi melihat dua garis merah pada Testpack. Itu artinya ummi sedang mengandung buah hati kita ... alhamdulillah”, mata Ali berkaca – kaca.

Begitu pula sang istri terharu hingga tak terasa di pipinya mengalir air mata kebahagiaan. Mereka berdua tak henti – hentinya bersyukur pada Sang Pencipta.
Dimalam bertabur bintang itu, Ali dan istrinya diselimuti kebahagiaan yang luar biasa.

Kehamilan bisa berarti amanah bahwa Allah akan segera menitipkan seorang anak pada mereka berdua. Semoga Ali dan istrinya bisa menjaga amanah tersebut dengan baik.

# Googling : kegiatan menggunakan mesin pencari/search engine www.google.com untuk mencari informasi di dunia maya
# Abi : Nama panggilan kesayangan Ali dari istrinya
# Ummi : Nama panggilan kesayangan untuk istri Ali yang bernama asli Siti Aminah
Bandung, Selasa 7 Desember 2010 pukul 10.32 WIB
Bertepatan dengan Tahun Baru Islam tanggal 1 Muharram 1432 H