Selasa, 11 Mei 2010

(Bukan) Do’a Biasa

Rasulullah SAW bersabda, ”jagalah dirimu dari doa orang yang teraniaya, walaupun ia seorang kafir. karena do’anya itu tidak ada halangan yang merintang” (Hr. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda, ”janganlah kalian mendo’a yang tidak baik untuk diri kalian, anak-anak kalian dan harta kalian, sebab boleh jadi do’a kalian itu bertepatan dengan waktu yang mana waktu itu do’a diijabah sehingga apa yang kalian mohonkan juga diijabah” (Hr. Muslim)

Aku merasa menyesal pernah berdo’a yang tidak baik untuk seorang rekan kerjaku (anggap saja namanya “Kenanga”) pada tanggal 9 Desember 2007 lalu. Ternyata isi 2 hadits diatas memang benar - benar terjadi padaku. Do’a yang tidak baik dari orang yang teraniaya, ternyata diijabah. Aku sendiri kaget menerima kenyataan tersebut.

Kejadiannya berawal saat aku merasa tertipu karena telah dibohongi seorang wanita yang merupakan rekan kerjaku. Wanita itu adalah seorang yang selama ini sering kuanggap sebagai wanita yang baik, ternyata kebaikannya itu hanyalah “topeng” untuk menutupi kebusukannya.

Aku sangat marah, benci dan kecewa padanya saat itu hingga kami pun tak pernah bertegur sapa lagi. Padahal dulu ia adalah seorang wanita yang sangat dekat denganku, ia pun merupakan wanita yang paling sering kupotret dengan kamera digitalku.

Namun saat emosiku memuncak, aku hapus foto - fotonya dan berjanji dalam hati,”aku tidak akan pernah memotretnya lagi seumur hidupku”.

9 Desember 2007
Disaat hatiku sedang kacau, dalam sebuah hasil rapat manajemen, aku ditunjuk sebagai seksi dokumentasi untuk acara ulang tahun pertama restoran tempat aku bekerja yang jatuh pada tanggal 12 Desember 2007.

Tentu saja hal ini membuatku kaget setengah tak percaya.
Sebagai seksi dokumentasi, aku diwajibkan memotret semua objek dan peristiwa menarik sepanjang acara ulang tahun itu berlangsung, termasuk memotret salah satu karyawan bernama Kenanga.

Entah melalui pertimbangan apa, perusahaan memilih aku sebagai seksi dokumentasi. Aku tidak mengerti. Memang selama ini di perusahaan aku terkenal sebagai seorang karyawan yang sangat narsis. Semenjak membeli kamera digital beberapa bulan yang lalu, entah sudah berapa banyak foto yang telah aku produksi. Kebanyakan objek yang menjadi model foto – foto karyaku adalah rekan – rekan kerja disebuah restoran seafood terkenal di Bandung. Mulai dari Security hingga General Manager di restoran ini pernah merasakan jepretan kamera digitalku. Padahal kamera digital milikku adalah kamera biasa dengan jumlah mega pixel yang kecil.

Awalnya aku berniat membeli kamera digital hanya untuk menyalurkan hobi memotret, namun seiring berjalannya waktu teryata hobi tersebut bisa menjadi usaha sampingan juga. Banyak diantara teman – teman yang merasa puas dengan hasil jepretanku lalu meminta untuk dicetak dalam kertas foto berbagai ukuran. Aku pun bekerja sama dengan seorang teman yang bekerja disebuah studio foto untuk mendapat hasil cetakan yang bagus namun harganya tak terlalu mahal agar bisa memperoleh keuntungan maksimal. Dari hasil jualan foto tersebut, lumayan bisa terkumpul uang untuk membantu biaya sekolah 2 adikku yang masih kecil. Selain itu, dengan menggunakan software Windows Movie Maker, aku pun bisa berkarya membuat film berdurasi 45 menit berisi slide show foto – foto dengan diiringi musik yang sedang ngetren saat ini. Alhamdulillah, film karya – karyaku laku dijual juga, bahkan General Manager tempat aku bekerja pun salut pada kreatifitasku.

Dari kebiasaan memotret dan membuat film itulah yang akhirnya menyebabkan manajemen perusahaan berani menunjukku sebagai seksi dokumentasi acara ultah restoran yang pertama. Sebuah tugas yang menyenangkan namun disertai tanggung jawab yang besar demi kesuksesan acara tersebut.

Perusahaan telah memberiku “amunisi” berupa hal – hal yang aku butuhkan untuk keperluan memotret nanti, seperti 3 pasang baterai, charger, dan ijin memotret + merekam video. Sementara kameranya memakai kamera digital milikku sendiri.

Sebenarnya tak ada masalah jika harus memotret di acara ultah pertama perusahaan sebesar ini, malah mungkin merupakan sebuah kebanggan besar bagiku. namun hatiku yang masih dipenuhi amarah terasa berat hati untuk menunaikan amanah yg telah diberikan.

Aku terlanjur berjanji pada diriku sendiri untuk tidak pernah memotret Kenanga lagi dan aku ingin menepati janjiku itu.

Selesai shalat isya di mushola, aku menyendiri sejenak.

Sambil wirid … aku terus terbayang wajah Kenanga.

Konsentrasiku menjadi buyar.

Saat itulah aku menengadahkan kedua tanganku keatas lalu berdo’a pada Allah SWT. Inti do’aku saat itu adalah memohon agar tepat dihari ulang tahun perusahaan ini, Kenanga menjadi tidak hadir, entah bagaimana caranya, karena aku sangat muak jika harus memotret dan merekam video tentang dirinya.

Dua hari sebelum ultah perusahaan (10 desember 2007), di papan pengumuman ditempel sebuah pengumuman baru bahwa semua karyawan wajib hadir di acara puncak ulang tahun restoran yang digelar 12 Desember 2007.

Tepat dihari ulang tahun perusahaan ini.

Pada mesin absensi.

semua karyawan dinyatakan hadir.

kecuali ssorang karyawan, Kenanga !

Aku mendapat kabar dari sahabatnya bahwa ia semalam tiba - tiba menderita sakit perut yang sangat hebat hingga mengharuskannya berobat ke dokter malam – malam.

Aneh, padahal sebelumnya ia belum pernah merasakan sakit perut sehebat itu. Dokter yang memeriksanya pun merasa keheranan karena tak ditemukan penyakit apapun diperutnya.

Tak hanya aku yang kaget ketika ia dinyatakan sakit dan tidak bisa hadir diacara ultah perusahaan, semua pimpinan dan karyawan perusahaan ini pun menjadi keheranan.

Semua orang tahu, Kenanga adalah karyawan teladan yang sangat rajin.

Dalam hal absensi selalu mendapat pujian dari semua orang. Ia termasuk manusia yang sangat jarang sakit, bahkan kalaupun sakit sudah terbiasa memaksakan diri tetap bekerja. Makanya dalam absensinya selalu terisi hadir, belum pernah ditemukan tulisan sakit, ijin, apalagi alpha.

Di acara ultah saat itu, Kenanga mendapat penghargaan berupa piagam dan sejumlah uang.

Tepat ditengah piagamnya tertulis “Miss Rajin”.

Sayang, ia tak bisa menerima hadiahnya secara langsung dan terpaksa diwakili temannya.

Bagiku, hal ini menjadi keuntungan.

Kenapa ? karena aku berhasil menepati janjiku untuk tidak memotret Kenanga lagi.

Bayangkan jika Kenanga bisa hadir diacara ini dan menerima hadiah itu.
Tentu akan jadi “beban mental” tersendiri untukku.
Disatu sisi ada kewajiban memotretnya sebagai penerima penghargaan dari perusahaan.
Namun disatu sisi yang lain aku wajib menepati janjiku untuk tidak pernah memotretnya lagi.

Setelah kejadian diatas, aku jadi sangat berhati-hati jika berdo’a sekarang.
Aku tak mau do’a jahatku dikabulkan lagi.
Cukup sekali dan aku janji tak akan mengulanginya lagi.

Walaupun sakit hati, marah, kecewa dan benci pada seseorang, aku akan belajar untuk memaafkannya dan berdo’a semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan orang tersebut.

Saat aku menceritakan peristiwa diatas pada seorang sahabatku di Medan, ia berkata,”berhati – hatilah dengan ucapan, bisikan, do’ a dan canda yang sering keluar dari mulutmu. Karena dalam al quran surat Qaaf ayat 18, Allah menerangkan bahwa didekat kita selalu ada malaikat yang selalu mengawasi tutur kata yang terucap.

 مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf : 18)

Sahabatku juga menasehati agar aku bisa menjadi manusia yang lebih sabar disaat mendapat ujian dan dapat mengontrol emosi saat marah. Ya, mengontrol emosi saat marah, itulah hal yang paling sulit dilakukan saat ini olehku. Aku tak menyangka, kata – kata yang diucapkan sebagai do’a, walaupun itu merupakan do’a yang jahat karena bertujuan mencelakakan orang lain dapat dikabulkan oleh Allah SWT. Kejadian ini menjadi teguran yang sangat berarti bagiku agar dimasa depan bisa lebih mengontrol diri saat marah dan selalu berusaha mengucapkan kata – kata yang baik saja.

Jangan sampai hanya karena kekeliruanku berucap sebuah kata, malaikat lalu mencatatnya sebagai amal jelek dan menjadi cikal bakal sebuah dosa.

Aku jadi teringat sebuah hadits nabi yang sangat terkenal berkenaan dengan porsi bicara seseorang, Rasulullah SAW bersabda,” berkatalah yang baik atau diam”. Sungguh bukan sebuah perkara mudah untuk tetap berkata baik jika hati dan pikiran sedang dilanda amarah dan emosi yang begitu kuat. Malah yang sering keluar dari mulut saat marah adalah kata – kata kotor seperti hinaan, caci maki, sumpah serapah, ejekan hingga do’a jahat seperti yang aku alami diatas.

Namun jika kita bisa menjaga mulut dengan baik selama hidup di dunia ini, niscaya balasannya adalah suatu hal yang sangat berharga bagi semua umat muslim yaitu surga.

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah SAW bersabda,”barang siapa yg mampu menjaga apa yg ada diantara 2 rahangnya (mulutnya) dan apa yang ada diantara 2 kakinya (kemaluannya) dengan baik, aku berani jamin dia masuk surga” (HR Bukhari Muslim).

Sungguh beruntung manusia yang bisa menjaga mulut dan kemaluannya dengan baik selama hidup di dunia. Nabi Muhammad SAW berani menjamin bahwa manusia tersebut akan masuk surga. Subhanallah.

Perasaan bersalah kadang masih selalu terasa jika mengingat do’a jahat yang pernah aku panjatkan untuk mencelakai Kenanga. Namun didalam hati aku merasa sangat menyesal, tak seharusnya aku mengucapkan do’a seperti itu. Do’a jahat tersebut terucap saat diriku masih dilanda amarah dan emosi. Mungkin jika dalam keadaan normal aku tak akan berbuat itu. Namun mungkin juga Allah SWT sengaja mentakdirkan peristiwa ini terjadi untuk memberiku pelajaran agar lebih berhati – hati lagi dengan lisanku dimasa depan.

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yaasin : 65)

Terasa sangat mengerikan keadaan di akhirat nanti, dalam ayat al quran diatas Allah SWT telah menggambarkan bahwa disana bukanlah mulut kita yang berbicara, namun tangan dan kaki kita yang selama ini telah menjadi saksi segala perbuatan yang baik maupun yang jelek.

Di dunia ini, kita masih bisa bersilat lidah untuk menyembunyikan aib kita dari orang lain, berbohong atau berdusta demi kepentingan kita bahkan memfitnah orang tak bersalah untuk menjatuhkan harkat dan martabat seseorang yang tidak kita sukai. Namun percayalah, dipengadilan Allah SWT di akhirat kelak, semua itu tidak akan bisa kita lakukan lagi, mulut kita akan ditutup. Tangan dan kakilah yang berbicara, menjawab segala pertanyaan dengan sangat jujur.

Semoga Allah SWT mengampuni dosaku yang telah berbuat kesalahan dengan mendo’akan sebuah kejelekan untuk Kenanga. Semoga kejadian itu hanya terjadi sekali dalam hidupku dan tidak terulang lagi dimasa depan. Amin.

Kamis, 22 April 2010

Review : Pameran Pedang Nabi di Pusdai







Kira2 seminggu yg lalu aku melihat spanduk warna biru terbentang dijalan Geger kalong Girang dekat Pesantren Daarut Tauhid Bandung. Isi spanduk itu tentang “Pameran Pedang Nabi” yg diadakan di Pusdai (Pusat Dakwah Islam). hanya berselang beberapa hari, Eri – sahabat baikku tiba2 mengirim sms tentang acara tersebut yg menurutnya bisa membuat kita makin mencintai Rasulullah SAW setelah melihat aneka barang peninggalan beliau serta menghayati sejarah dari benda2 tersebut. Aku jadi penasaran ingin segera mengunjungi Pusdai secepatnya.

Acara yg bagus ini aku kira sangatlah tepat jika diekspos di FB agar semua teman FBku bisa mengunjungi Pusdai juga. Aku pun segera membuat acara berjudul, ”Pameran Peninggalan Nabi Muhammad SAW didatangkan langsung dari Turki” dan mengundang semua teman FBku yg beragama islam. Alhamdulillah sambutannya baik sekali. Beberapa teman ada yg langsung pergi kesana, ada yg bertanya harga tiketnya dulu, ada yg ga bisa datang karena jauh, dll. mayoritas dari semua teman yg mengetahui acara itu sebenarnya sangat ingin menghadiri pemeran, namun ada beberapa kendala yg menghalangi. Terutama jarak mereka yg jauh dari Pusdai di Bandung, maklum teman FBku kebanyakan dari luar kota. Dari Aceh sampai Papua, bahkan ada beberapa orang yg berdomisili diluar negeri seperti Malaysia, Qatar, Hongkong dan Amerika Serikat.

http://www.facebook.com/andri.nugraha2?v=app_2344061033#!/event.php?eid=117723314905551&index=1

Rekapitulasi acara “Pameran Pedang Nabi” di FB :
Akan hadir : 42 orang
Mungkin hadir : 70 orang
Tidak hadir : 100 orang
Belum memberi jawaban : 183
(data hingga tanggal 28 april 2010)

sebelum berangkat kesana, aku smsan dulu dengan Eri yg lebih dulu telah mengunjungi pameran. Ternyata harga tiket untuk hari libur beda sedikit dengan hari biasa. dihari biasa harga tiketnya rp 10.000, jika hari libur naik menjadi rp 15,000. awalnya agak kaget juga mengetahui hal itu, maklum aku sedang berhemat. Namun setelah dipikir lagi, harga segitu ga ada artinya dibandingkan harga yg harus dibayar jika sengaja melihat koleksi peninggalan Nabi tersebut di museum Topkapi Turki. Aku juga diingatkan agar tak memotret semua benda koleksi pameran karena ada penjaganya. Hal ini sempat membuatku agak kecewa karena sebagai orang yg narsis, tentu saja ga bisa memotret diacara sebagus ini akan sangat merugikan. Sangat jarang ada acara seperti ini lagi dimasa depan. Tapi, ya sudahlah, mungkin panitia memiliki pertimbangan khusus sehingga tiap pengunjung dilarang memotret benda koleksi pameran.

Sebelumnya aku juga pernah melihat VCD berisi pameran benda2 peninggalan Nabi yg disimpan di Museum Topkapi Turki, namun akan lebih afdol jika bisa melihat benda2 tersebut secara langsung dengan mata kepala sendiri. Beruntung kedutaan besar Turki dan Indonesia bisa bekerjasama menyelenggarakan acara ini. Barang2 peninggalan nabi sengaja didatangkan dari Turki ke Bandung. Bahkan rencananya akan dibawa berkeliling ke 30 kota di indonesia.

Minggu 18 april 2010 ba’da dzuhur aku berangkat ke Pusdai seorang diri, jalanan yg agak macet saat melintasi lapang Gasibu tidak menyurutkan niatku sedikitpun. Ini momen langka, bagaimanapun caranya aku harus melihatnya. setibanya di Pusdai, aku melihat ratusan manusia sedang antri memasuki pintu tempat pameran diselenggarakan. Setelah membeli tiket, aku pun masuk kedalam barisan orang – orang yg sedang mengantri. Menurut penjaganya, yg masuk ke pameran diatur 50 orang sekali.
Astagfirullahaladzim, antriannya ternyata lama banget sedangkan matahari sudah makin condong ke barat. Beberapa pengunjung yg sedang antri pun terpaksa “dijemur” teriknya matahari. Sayangnya, meskipun acara ini diselenggarakan di Pusdai (Pusat Dakwah Islam), pengaturan antrian pengunjung kurang sesuai dengan kaidah islam. Pengunjung pria dan wanita dibiarkan antri dalam satu barisan hingga berbaur satu sama lain padahal bukan mahramnya. Ini harusnya menjadi perhatian pihak panitia jika menggelar acara seperti ini dimasa depan, hal ini tidak boleh terulang lagi.

Akupun sempat kerepotan untuk menjaga mata, hati dan tindakan saat mengantri karena didepan, belakang, kiri dan kananku banyak akhwat2nya. Agar orang2 yg sedang antri tidak jenuh, panitia menyediakan hiburan nasyid dari sebuah panggung. Konon nasyidnya didatangkan dari Bandung dan luar kota seperti Jakarta. Namun hal itu tidak lantas membuatku nyaman, karena aku kurang menyukai nasyid. Dari antrian hingga mencapai ruang pameran, aku ternyata menghabiskan waktu 1 jam 50 menit !
Memang hari minggu pengunjungnya bejubel lebih banyak dari hari biasanya karena pengunjung dari luar kota pun ikut menghadiri acara sambil liburan di Bandung. Perjuangan yg melelahkan.

Pada sebuah dinding, aku melihat beberapa pengumuman yg ditempel panitia. Isinya berupa himbauan agar pengunjung tidak mengkeramatkan benda2 yg dipamerkan hingga khawatir terjadi kemusyrikan. Maklum orang Indonesia terbiasa menganggap keramat benda2 yg dimiliki orang2 yg berilmu agama, apalagi jika barang itu merupakan peninggalan nabi. Ada juga larangan memotret, makan dan merokok di ruang pameran. Aku yg awalnya kecewa karena ga boleh memotret jadi sadar bahwa terkadang adakalanya larangan itu berdampak baik. Jika semua orang bebas memotret barang peninggalan nabi, takutnya terjadi hal seperti yg dilakukan sebagian masyarakat indonesia, mengkeramatkannya hingga terjerumus ke lembah kemusyrikan.

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa masuk ke ruang utama pomeran. Bersama puluhan pengunjung lainnya, kami diajak memasuki sebuah ruangan yg gelap oleh pemandu acara. Disini kami menonton film sejarah pembebasan kota Yerussalem dari umat kristiani oleh Salahudin Al Ayubi atau yg sering dipanggil Saladin oleh orang barat. Film berdurasi 10 menit ini cukup membuka wawasanku tentang sejarah islam dimasa lalu. Setelah itu kami semuanya berjalan menuju ruang utama pameran dimana disana terletak pedang2 yg dulu dipakai Nabi Muhammad SAW sewaktu berperang melawan musuh2nya. Koleksi pedang Nabi berjumlah lebih dari 1. ada yg bertabur batu mulia, namun ada juga yang polos berupa besi dengan ukiran menarik diatasnya.

Tak hanya pedang nabi yg dipamerkan, namun ada juga mushaf al quran sundawi, sandal nabi, tongkat nabi Muhammad dan Nabi Musa. Awalnya aku kira tongkat nabi musa seperti apa yg bisa berubah jd ular dan membelah laut, ternyata hanya berupa kayu biasa dengan ukuran kurang lebih 2 meter. Subhanallah …

Ikut dipamerkan juga replika jejak kaki Nabi ketika isra mi’ raj di masjid Al – Aqsa di Palestina. Ukurannya yg besar membuat beberapa pengunjung memperkirakan ukuran tubuh nabi tinggi besar. Sepotong kayu yg biasa dipakai nabi bersiwak (menggosok gigi) dipamerkan disudut ruangan. Bersiwak dengan kayu tersebut untuk zaman sekarang sudah sangat langka yg melakukannya, padahal ada keutamaan dalam bersiwak dibanding menggosok gigi biasa. Selain mengikuti sunah nabi juga termasuk amalan yg berpahala. Pada dinding ruang pameran terpampang beberapa foto dan silsilah khalifah2 yg dulu pernah membawa kejayaan islam dimuka bumi. Namun sayang aku ga bisa menghapal nama2nya karena banyak sekali jumlahnya.

Setelah keluar dari ruang utama pameran, aku sampai di ruang ketiga dimana pengunjung bisa mengabadikan kehadirannya di acara ini. Ada seorang fotografer yg menawarkan jasa memotret langsung jadi ditempat bagi pengunjung. Acara pemotretan ini hanya bersama replika pedang nabi, bukan pedang asli yg terletak diruang utama pameran. Namun animo pengunjung cukup tinggi sekali, terbukti sang fotografer kewalahan memenuhi pesanan pemotretan. Dengan bermodalkan uang rp 10.000 pengunjung bisa mendapatkan foto bersama replika pedang nabi baik sendiri maupun dengan teman atau keluarganya.

Ada juga foto bareng replika pedang nabi yg hasil akhirnya berupa mug, harganya rp 25.000. namun hasilnya tentu lebih menarik dari sekedar foto biasa. Peminatnya juga tak sedikit. Aku pun tertarik untuk membuat 1 foto dan akhirnya mendaftar untuk foto bareng replika pedang nabi dan minta dicetak pada kertas foto ukuran 10 R. setelah dipotret, aku pun berjalan – jalan dulu diluar sambil menunggu hingga fotoku selesai dicetak.

15 menit berselang, aku kembali ke ruang itu lagi, namun rupanya fotoku belum selesai dicetak. Setelah dicari ditumpukan foto, hasilnya tetap nihil. Aku malah menemukan foto ustadz Jeffry Al Bukhori (Uje) yg foto bareng replika pedang nabi bersama 2 temannya. Akupun memilih salat ashar dulu di masjid Pusdai, lalu berjalan mengelilingi seluruh areal Pusdai plus memotret beberapa momen dan tempat menarik disekitar areal itu. Sore itu Pusdai penuh dengan pengunjung pameran, anak2 yg bermain sepak bola, serta masyarakat umun yg sedang berkumpul bersama keluarga tercintanya. Menghabiskan waktu di Pusdai memang menyenangkan. Aku memotret seluruh sudut Pusdai mulai dari bagian depan, belakang, bagian dalam dan luarnya. Banyak objek menarik untuk diabadikan kamera hp Sony Ericsson K618i milikku.

Hasil lengkap foto hasil jepretanku ada pada link dibawah ini :
http://www.facebook.com/album.php?aid=21135&id=100000139012569&l=be234f575b

Setelah puas berkeliling Pusdai dan memotret, aku pun kembali ke tempat pemotretan foto bareng replika pedang nabi. Aku kecewa karena fotoku masih belum selesai dicetak, padahal sudah lebih dari 1 jam. Seorang petugas panitia akhirnya berusaha mencarikan fotoku, namun hasilnya mengagetkanku. Pantas saja fotoku tidak ada pada tumpukan kertas foto ukuran 10 R, rupanya sang editor salah mencetak fotoku hingga malah mencetaknya menjadi sebuah mug. Karena yg kupesan foto ukuran 10 R namun hasilnya malah mug, aku pun hendak membayar selisih rp 15.000. namun panitia menolak keinginanku dengan halus, ia meminta maaf atas kesalahan yg terjadi dan menyuruhku membawa mug itu tanpa membayar biaya lagi. Alhamdulillah, awalnya aku berniat berhemat sehingga memilih mengabadikan kehadiran diacara ini melalui kertas foto ukuran 10 R seharga rp 10.000 sesuai kemampuan dompet. Namun takdir Allah berkata lain, aku diberinya “kesalahan berbuah manis” hingga fotoku diabadikan pada sebuah mug seharga rp 25.000. mungkin ini sudah menjadi rencanaNya hingga rezekiku berupa mug tersebut.

Malam telah tiba, aku pun salat magrib berjamaah dulu di masjid Pusdai. Sebelum pulang aku menyempatkan diri melihat spanduk yg terbentang diareal Pusdai, ternyata ada sebuah pengumuman tentang “islamic Book Fair” yg akan diselenggarakan tanggal 4 hingga 16 mei 2010 bertempat di gedung Landmark jalan Braga Bandung.

Mungkin aku akan datang ke acara tersebut, ingin membeli buku2 karya Fauzil Adhim, 

Sahabat, semoga kalian berkesempatan melihat benda2 peninggalan Nabi Muhammad SAW seperti yg telah kualami diatas.