Minggu, 14 Maret 2010

Mengenang LPES Bandung










Latar Belakang Gabung LPES Bandung

Akhir tahun 2006 setelah keluar dari Daarut Tauhid Service Provider, aku masih sering berkunjung ke Pesantren Daarut Tauhid untuk mengikuti kajian hari minggu pagi. Tak sengaja, aku melihat papan pengumuman yang terletak disamping SMM DT (Super Mini Market Daarut Tauhid) berisi berbagai macam tawaran lowongan pekerjaan. Namun setelah dibaca satu persatu, tak ada lowongan pekerjaan yang benar – benar cocok denganku. Rata – rata yang dituliskan dalam kualifikasinya adalah Lulusan D3 keatas, usia 25 tahun ke bawah, pandai berbahasa Inggris aktif dan berpenampilan menarik. Bandingkan dengan keadaan diriku yang hanya tamatan SMU, usia sudah 25 tahun, tidak pandai berbahasa Inggris dan penampilan jauh dari menarik.

Namun ada satu pengumuman yang menarik perhatianku, yaitu adanya kursus pembuatan tas dan digital photography gratis. Awalnya aku sempat ragu, apakah dizaman ini masih ada kursus yang benar – benar gratis ? untuk membuktikannya, akupun segera mendatangi lokasi kursus tersebut. Bagiku, kursus membuat tas tidaklah menarik, namun kursus digital photography membuat antusiasku membara karena sesuai cita – citaku yg ingin jadi fotografer terkenal. Mungkin kursus ini bisa jadi batu loncatan terbaik agar nantinya aku bisa bekerja ditempat lain menggunakan ilmu yg didapat dari kursus gratis ini. Daripada menganggur, kursus adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

Kupandangi lokasi tempat kursus itu berada, sebuah ruko 2 lantai yg sangat besar. Tak mau menunggu waktu lama lagi, aku pun segera mendaftarkan diri sebagai peserta kursus. LPES (Lembaga Pendidikan Entrepreneur Ship) ternyata sebuah lembaga baru yg didirikan Drs. ES untuk mendidik calon – calon wirausahawan yg bergerak dibidang pembuatan tas dan digital photografi. Menurut beliau, lembaga ini didirikan pertengahan 2006 dan mendapat subsidi pendidikan dari Depdiknas sehingga bisa menyelenggarakan kursus secara gratis alias tanpa biaya sepeser pun. Awalnya aku merasa aneh saat memasuki tempat kursus ini karena terdengar suara – suara anak kecil yg sedang belajar. Ternyata di lembaga ini terdapat juga les bahasa inggris dan pelajaran umum untuk anak – anak SD.

Saat mendaftar, aku menandatangani sebuah kontrak untuk mengikuti kursus ini. Syarat – syaratnya tidak ada yg memberatkan, makanya aku tak ragu bergabung dengan LPES. Semula, aku hanya ingin mengikuti kursus digital photography. Namun pak ES sebagai pimpinan lembaga ini menyarankan aku ikut kursus tas juga agar banyak ilmu yg bermanfaat untuk masa depan. Akhirnya aku pun ikut kedua kursus itu walaupun menurutku jadwal kursusnya mirip banget dengan jadwal bekerja. Kursus tas berlangsung dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore, sedangkan kursus digital photography berlangsung pada jam 4 sore sampai jam 6 sore.

NICE BAG

Kursus pembuatan tas di LPES dipimpin oleh seorang guru yg bernama T, beliau konon pernah bekerja di pabrik tas terbesar dinegara ini. Jumlah peserta kursus tas hanya ada 13 orang, kebanyakan perempuan daripada laki – laki. Rutinitas hariannya adalah isi absensi saat pagi hari dengan menandatangani absen yg telah tersdia, namun ternyata teman – teman masih lekat dengan ciri khas Indonesianya yg selalu ngaret. Ruangan belajarnya terletak dilantai 2 bersebelahan dengan tempat kursus bahasa inggris dan pelajaran umum anak- anak SD. Tak jarang karena posisinya seperti itu, kami tertawa – tawa mendengar celotehan khas anak kecil yg sedang belajar. Awalnya aku diajarkan cara membuat pola pada kain memakai kapur lalu memotongnya sesuai ukuran. Setelah itu berlanjut pada belajar cara menjahit potongan – potongan kain tersebut menjadi sebuah tas menggunakan mesia jahit. Disini kami menggunakan mesin jahit yg biasa dipakai di rumah, namun seiring perjalanan waktu, ada penambahan unit mesin jahit besar khusus untuk membuat tas. suasana kursus tas sangat menyenangkan, teman – teman suka bercanda sambil mendengarkan musik di radio.

Entah kenapa aku sangat sulit sekali menjahit walaupun sudah beberapa kali diajarkan, yg jago untuk urusan itu pun hanya beberapa orang saja. Sementara yg lainnya kebagian tugas membuat pola dan finishing ( pemasangan aksesoris). Aneh, lama kelamaan aku berpikir suasana di LPES bukanlah seperti kursus namun lebih mirip tempat wirausaha pembuatan tas. Setiap peserta kursus sudah ditentukan “job desk”nya masing – masing dan tak boleh keluar dari jalur itu.

Praktek Jualan

Semula tas yg kami buat masih tanpa merk, namun setelah menyadari arti pentingnya sebuah brand, akhirnya dibuatlah merk NICE BAG pada tas produksi kami. Setiap jum’at semua peserta kursus pembuatan tas dibagi beberapa tas hasil produksi selama seminggu untuk dijual pada masyarakat luas. Disinilah jiwa wira usaha setiap peserta kursus mulai ditempa, membuat barang mudah namun untuk menjualnya dibutuhkan perjuangan yg tak mudah. Aku sempat bingung juga saat disuruh membawa 23 tas lalu diharuskan menjual dihari minggu dengan lokasi yg tidak ditentukan. Sewaktu membawa pulang tas – tas itu ke rumah, tak disangka orang – orang di rumah menyukai tas tersebut. Saudara sepupuku langsung membeli dengan tanpa menawar, bahkan tetangga ada yag membeli 2. memang tas produksi kami merupakan tas ukuran kecil yg saat itu sedang booming disebut “tas ariel peter pan” makanya banyak yg tertarik membelinya. Setelah di keluarga dan tetangga ada yg membeli tasku, semangat menjual tiba – tiba muncul dibenakku.

Belum dijual, udah laku dirumah. Aku jadi ingat kata – kata Santiago dinovel The Alchemist, “keberuntungan seorang pemula”. Aku lalu berpikir kemana harus menjual tas yg masih tersisa banyak. Seorang teman mengajakku untuk jualan dilapangan Gasibu pada minggu pagi, aku pun langsung menyetujuinya. Lapangan Gasibu yg terletak persis dihadapan gedung sate adalah ikon kota Bandung. Setiap minggu pagi banyak pedagang, pejalan kaki, orang – orang yg sedang olah raga tumpah ruah hingga terpaksa polisi sering mengubah jalur lalu lintas untuk mengurangi kemacetan. Dihari minggu pagi itulah pedagang bebas berjualan di area lapangan Gasibu bahkan sampai di jalan raya hingga mendekati Pusdai (Pusat Dakwah Islam). Di pusat keramaian seperti itulah peluang terjualnya barang dagangan sangat besar, kata temanku. Sejak ba’da subuh, aku langsung meluncur ke Gasibu, ternyata disana sudah banyak pedagang hingga aku kesulitan mencari tempat kosong untuk menjajakan barang daganganku. Setelah berkeliling agak lama, akhirnya aku berhasil mendapat tempat disebelah penjual boneka dan pakaian jadi. Beralaskan selembar plastik besar, aku pun langsung memajang beberapa tas. Banyak orang berlalu lalang, aku pun mulai menawarkan barang daganganku dengan berteriak – teriak layaknya penjual tas.

Beberapa orang sempat melihat – lihat tasku, lalu bertanya tentang harganya namun tak membeli, aku harus sabar. Aku yakin rezeki sudah diatur Allah Yang Maha Kuasa. Lama kelamaan muncullah sekelompok anak muda mendekati tempat jualanku, mereka sempat menawar harga tasku, setelah itu terjadilah proses jual beli. Rupanya sekelompok pemuda tadi jadi awal mula berdatangannya pembeli tasku, tak lama kemudia seorang ibu membeli 2 tas sekaligus disusul beberapa pembeli lain. Setelah agak siang, lapangan Gasibu terasa panas. Beberapa pedagang pun ada yg pulang atau memindahkan dagangannya ke tempat lain. Sebelumnya aku agak takut juga jualan di Gasibu setelah mendengar cerita dari teman yg selalu dipalak preman. Beruntung aku tidak mengalaminya, aku hanya dipungut biaya kebersihan sebesar 500 rupiah, itupun oleh petugas resmi dinas kebersihan yg memakai seragam kuning dan aku pun diberi tanda bayarnya.

Setelah Gasibu tidak kondusif lagi dijadikan tempat jualan, aku pun memindahkan lokasi berjualan ke taman lansia yg berada dibawah lapangan Gasibu. Suasana taman yg penuh pohon besar yg rindang membuat suasana adem dan sejuk. Tak heran disini berjubel orang – orang yg sedang bersantai. Sengaja aku menjajakan barang dagangan didepan pintu masuk taman, tak disangka lokasi itu sangat strategis untuk berjualan tas. Jualanku sangat laku keras dilokasi itu, syukur alhamdulillah. Ditaman ini pula aku bisa istirahat sejenak setelah capai jualan. Jumlah tas yg belum terjual tinggal beberapa buah lagi, aku pun lalu merubah taktik jualanku. Kali ini aku menjajakannya dengan cara ditenteng pada kedua tanganku sambil berjalan – jalan menikmati sejuknya udara taman. Alhamdulillah dengan cara berjalan- jalan itu ternyata jualanku jadi cepat habis. Metode jemput bola menurutku memang lebih sesuai ditempat peristirahatan seperti itu. Setelah semua barang dagangan habis, aku pun memanjakan diri dengan berjalan – jalan mengitari Gasibu hingga ke taman dekat Telkom sambil berburu topi dan MP3 murotal al quran.

Keesokan harinya semua peserta wajib melaporkan hasil jualannya pada pengajar pembuatan tas, tak disangka dari 14 peserta, hanya aku yg jualannya habis dan memperoleh keuntungan terbesar. Teman – teman ada yg jualan di Gasibu, punclut dan Pondok Hijau namun hasilnya kurang menggembirakan. Aku senang saat mendapat penjelasan bahwa uang yg dikembalikan pada pengajar hanyalah harga dasar tas tersebut sedangkan keuntungannya menjadi milik peserta kursus yg bersangkutan. Alhamdulillah karena aku mendapat keuntungan terbesar maka otomatis mendapat uang terbanyak dibanding teman2 yang lain. Uang itu sangat berarti bagi aku yg sedang menganggur.

Ketika hari jum’at merupakan hari besar nasional, kami diharuskan jualan pada hari itu sehingga punya lebih banyak waktu jualan hingga minggu. Aku pun teringat di Pusdai (Pusat Dakwah Islam) ada pasar kaget setiap jum’at siang. Aku pun datang kesana jam 10 pagi lalu menggelar dagangan dengan harapan bisa terjual beberapa tas sebelum waktu salat jum’at tiba. Pasar kaget jum’at siang di Pusdai memang ramai namun ternyata kurang bersahabat dengan barang daganganku, hingga menjelang salat jum’at tak satupun tasku yg terjual. Aku pun lebih memilih untuk salat jum’at dulu dibanding terus berjualan.

Aku teringat ayat alquran yg menerangkan bahwa jangan sampai perniagaan/perdagangan yg kita lakukan lebih diutamakan daripada ibadah kepada Allah SWT.

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (At Taubah : 24 )

Setelah selesai salat jum’at, aku merasa prihatin dengan para pedagang disekitar Pusdai. Mereka lebih mementingkan jualan daripada ibadah, memang ada yg salat jum’at juga namun persentasenya kecil. Aku prihatin karena sedih kalau mereka termasuk orang – orang yg disebut pada ayat alquran diatas. Memang menurut para pedagang, biasanya menjelang waktu salat suka ada pembeli dadakan, diwaktu itulah terjadi dilema antara terus jualan atau salat. Mungkin itulah ujian yg Allah berikan pada para pedagang apakah akan beribadah atau terus dagang karena khawatir mengalami kerugian jika tidak menjual barang dagangannya saat itu. Meskipun barang daganganku tak ada yg terjual satu pun, aku tetap bersyukur bisa beribadah dengan tenang. Bagiku jualan tak harus melupakan ibadah, justru jadikan jualan sebagai ladang ibadah.

Pengalaman dagang paling seru adalah berdagang di dalam kereta api kelas ekonomi jurusan Bandung – Cicalengka. Waktu itu aku berniat jualan dikampung halaman nenek di Cicalengka, jaraknya sekitar 2 jam dari Bandung jika ditempuh dengan kendaraan bermotor. Setelah membeli tiket dan menaiki kereta api, beruntung aku mendapatkan tempat duduk. Biasanya kereta sangat padat penumpang hingga tempat duduk menjadi langka. Tiba – tiba ada seotrang ibu yg bertanya padaku tentang tas besar yg sedang kupegang. Ia bertanya apakah tas – tas kecil itu untuk dijual di Cicalengka dan aku pun mengiyakannya. Ia tersenyum dan memberi saran padaku agar dijual diatas kereta saja karena pasti akan laku. Jujur saja saat itu tiba – tiba badanku jadi bergetar dan keringat bercucuran dari badanku … jualan diatas kereta api … apakah aku mampu ?
Ibu itu terus memberiku semangat agar segera memulai berjualan ditengah penuhnya penumpang kereta yg berdesakan. Akhirnya aku pun memberanikan diri berjalan sepanjang gerbong untuk menawarkan barang daganganku. Tidak ada pembeli satu pun, aku pun pindah ke gebong lain hingga sampai di gerbong terakhir.di gerbong itulah aku berpapasan dengan seorang penjual tahu sumedang, ia memberi saran agar jualan tasnya terus bolak balik dari gerbong satu ke gerbong lain tanpa henti sampai kereta tiba di tujuan. Karena menurutnya jualan apapun di dalam kereta api akan selalu laku. Disini ada semacam kebiasaan, jika ada seorang penumpang kereta membeli barang dagangan kita, maka yg lainnya juga akan menyusul membeli juga. Ternyata kebiasaan itu benar – benar terjadi, ketika ada seorang pemuda membeli tas jualanku, tiba – tiba saja penumpang lainnya ikut – ikutan membeli juga.

Dikereta ini pula aku bisa mempelajari berbagai karakter manusia dari cara mereka membeli barabg dagangan.. Ada yg hanya melihat – lihat tasku, menawar dengan harga wajar, menawar hingga harga terendah, namun ada juga yg tanpa menawar langsung membeli. Ada suatu kejadian yg membuatku tersadar jika jualan harus mengutamakan kejujuran. Ada seorang ibu yg membeli tasku dan ia menemukan suatu cacat kecil pada produk itu. Ia pun protes dan meminta ganti dengan tas yg lain. Aku pun segera menggantinya. Sewaktu barang daganganku hampir habis, ada seorang bapak yg ingin membeli barang cacat tadi, disinilah dilema itu muncul. Apakah aku akan tetap menjualnya walaupun mengetahui barang itu cacat atau memberitahukannya pada calon pembeli tersebut.

Aku jadi teringat ayat – ayat alquran yg mencegah kita berbuat curang saat berdagang , walau bagaimanapun keadaannya kita tetap harus jujur.

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ

“kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang” (Al Muthafifin : 1)

Yang dimaksud dengan orang-orang yang curang di sini ialah orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.

وَيَا قَوْمِ أَوْفُواْ الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ وَلاَ تَبْخَسُواْ النَّاسَ أَشْيَاءهُمْ وَلاَ تَعْثَوْاْ فِي الأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan”. (Huud : 85)

بَقِيَّةُ اللّهِ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ وَمَا أَنَاْ عَلَيْكُم بِحَفِيظٍ

“sisa (keuntungan) dari Allah[734] adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu" .(Huud 86)

[734] Yang dimaksud dengan sisa Keuntungan dari Allah ialah Keuntungan yang halal dalam perdagangan sesudah mencukupkan takaran dan timbangan.

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذا كِلْتُمْ وَزِنُواْ بِالقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Al Israa : 35)

Iitulah beberapa ayat yg mencegah kita berbuat curang dalam dagang, bahkan dulu nabi Syuaib pun berdakwah pada bangsa madyan agar jujur dalam dagang dan tidak berbuat curang dengan cara nengurangi timbangan/takaran. Mengurangi takaran tidak hanya merugikan pembeli tapi juga menurunkan kredibilitas kita sebgai pedagang jujur.bahkan yg lebih patut diwaspadai adalah ancaman Allah terhadap orang – orang yg suka berbuat curang di dunia akhirat. Barang dagangan yang cacat juga menurutku takarannya sudah tidak benar lagi, makanya aku enggan menjualnya. Kembali pada cerita tadi, akupun lalu memberitahukan pada bapak calon pembeli bahwa tas ini ada cacatnya hingga aku tak berani menjualnya. Ternyata bapak tadi tersenyum lalu berterima kasih atas kejujuranku. Ia tetap membeli barang cacat itu dan katanya akan diperbaiki sendiri cacatnya karena ia merupakan tukang jahit di Cicalengka.

Alhamdulillah, jualan diatas kereta api ternyata menjadi pengalaman berharga yg jarang sekali terjadi dalam kehidupanku. Didalam kereta aku menemukan beberapa pedagang yang terkesan bersahabat dengan pedagang baru meskipun awalnya kami sama sekali tak saling mengenal. Rupanya tingkat solidaritas sesama pedagang sangat tinggi disini, mereka juga tak segan memberikan tips2 dagang agar barang dagangan laku dijual diatas kereta api. Namun sayang keberadaan pedagang diatas kereta api sekarang sudah jauh berkurang sejak adanya larangan berjualan di atas kereta api oleh petinggi PT. KAI.

Vidi Digital Photography

Kursus digital photography di LPES berbeda sekali dengan kursus pembuatan tas, baik dari segi keilmuan, jumlah peserta, jam belajar, prakteknya, dll. Kursus foto para pesertanya kebanyakan laki – laki, berbanding terbalik dengan kursus pembuatan tas. Jumlah pesertanya juga ada 20 orang lebih, jam belajarnya hanya 2 jam perhari. Kami mulai belajar jam 4 sore dengan instruktur seorang pengajar di tempat kursus fotografi terkenal di Bandung. Ia sengaja disewa oleh pak ES untuk berbagi ilmu pada peserta kursus di LPES. Awalnya kami diajari teori tentang kamera digital, cara memotret yg baik dan benar serta praktek memotret.

Praktek Memotret

Beberapa peserta kursus ada yang memiliki kamera digital, hal ini memudahkan kami untuk melakukan praktek memotret. Kami pernah ditugaskan memotret objek – objek menarik yang ada di Bandung berdasarkan kecamatan. Aku, Agus dan Roy kebagian tugas memotret hal – hal menarik yang ada disekitar kecamatan Cidadap. Kami bertiga pun mendatangi tempat pembuatan pisau T Kardin yg terkenal lalu berjalan – jalan ke Punclut dan Curug Dago. Begitu pula dengan teman – teman yg lain, mereka memotret beberapa objek menarik disekitar Bandung dan hasilnya dikumpulkan senin. Setelah hasilnya ditampilkan dalam bentuk slide show di komputer, nampaklah karya – karya semua peserta kursus. Kami pun saling memuji dan mengkritik agar hasil foto kami berikutnya lebih baik.

Praktek berikutnya adalah memotret di Pondok Hijau, disini merupakan tempat favorit warga bandung untuk bersantai dihari minggu pagi. Selain pemandangannya indah, banyaknya pedagang juga menjadi daya tarik tersendiri. Kejadian yang tak terlupakan saat praktek memotret di Pondok Hijau adalah saat harus memotret teman yang sedang berlari menuruni tebing, disitulah dibutuhkan kejelian dan kecermatan seorang fotografer. Hasilnya sungguh menakjubkan.

Kunjungan ke Rumah

Solidaritas sesama peserta kursus patut diacungi jempol, itu terbukti saat ada acara kunjungan ke rumah tiap sabtu siang. Awalnya kami semua berkunjung ke rumah pak ES untuk silaturahim + makan – makan, setelah itu sabtu berikutnya bergiliran silaturahim ke rumah tiap peserta kursus secara bergantian. Saat mendatangi rumah teman itulah saat paling menyenangkan dalam episode hidupku, kami bisa bercanda tawa, ngobrol tentang berbagai hal sampai membuat foto bareng. Sayang teman – teman tidak sempat berkunjung ke rumahku karena LPES keburu bubar sebelum giliran berkunjung ke rumahku tiba.

Nonton Film

Pak ES sebagai pimpinan LPES merupakan seorang ustadz di Sarijadi, beliau kadang meminta semua peserta kursus berkumpul lalu menonton film – film buatannya. Kami disuguhi tontonan menarik tentang proses pembuatan foto pernikahan, film tentang tata cara mengurus jenazah secara islam (satu ilmu yg terancam hilang saat ini) hingga film tentang wira usaha.

Hiking Bareng

Salah satu kenangan terindah bersama teman – teman kursus di LPES adalah saat hiking ke Curug Cimahi. Terlalu banyak peristiwa indah yang tak bisa dijelaskan dengan kata – kata, namun semuanya terekam dengan baik di kepala kami. Sayang saat itu tak ada satupun teman yang membawa kamera untuk mengabadikan momen berharga tersebut. Itulah hiking terakhir yg kulakukan hingga sekarang, entah kapan lagi bisa melakukan hal itu. Aku suka dengan kebersamaan saat makan di alam terbuka, berlari – lari di kebun teh, bersama – sma memayungi diri dengan daun pisang saat hujan, berenang di curug serta jalan kaki naik turun perbukitan merupakan hal yang paling aku gemari. Sayang tak setiap waktu bisa melakukannya.

Sisi lain LPES : Tmpat Les & Dagang

Selain tempat kursus pembuatan tas dan digital photography, di LPES juga tersedia kursus bahasa inggris dan pelajaran umum bagi anak – anak SD. Pengajarnya merupakan mahasiswi dari UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Aku sangat terkesan pada salah seorang pengajar les bahasa Inggris yg biasa disapa,”Teh Ayu”. Ia adalah sosok wanita yang sangat “sempurna” bagiku. Selain pintar berbahasa inggris, ia juga punya wajah yang cantik, memakai jilbab syar’i, rajin ibadah dan punya jiwa wira usaha. Selain mengajar les, ia juga mengajar privat dan berjualan jajanan pasar seperti gorengan dan kue kering. Sungguh, wanita seperti itulah yg memikat hatiku. Sayang, komunikasi kami terputus saat LPES bubar.
Di depan kantor LPES juga tersedia warung kecil sebagai tempat belajar kami jualan dan mengenal pembukuan keuangan. Yang berjaga di warung itu tiap harinya selalu bergantian diantara peserta kursus. Ternyata warung kecil juga jika dikelola dengan serius bisa mendatangkan rezeki yang tak sedikit.

Kehancuran LPES

Kehancuran LPES terjadi saat pak ES tiba – tiba mengumumkan secara sepihak bahwa kursus tas dan foto dihentikan. Beliau mengatakan bahwa dana untuk mengadakan kursus ini telah dihentikan penyalurannya oleh Depdiknas sehingga beliau tidak bisa menyelenggarakan kursus secara gratis lagi. Teman – teman pun melakukan protes pada Pak ES, namun tidak mendapat tanggapan yang menggembirakan. Sungguh sangat disayangkan jika kursus berhenti ditengah jalan, padahal saat itu kami sedang semangat – semangatnya belajar praktek.
Diantara teman – teman sebagian ada yang meminta transparansi pak ES dalam mengelola keuangan yang tiap bulannya dikucurkan oleh Depdiknas untuk LPES sebagai biaya menyelenggarakan kursus gratis, namun beliau selalu mengelak. Ketika kami akan adukan masalah ini pada Depdiknas kota Bandung, ia pun mencegah dengan berbagai alasan. Dari situlah kami menduga ada ketidak beresan manajemen keuangan yg dikelola pak ES sebagai biaya operasional LPES.

Seluruh peserta kursus LPES pun sempat berdemo meminta agar kursus tidak dihentikan ditengah jalan, namun hal itu hanya sia – sia. Dulu diawal pendaftaran menjadi peserta kursus, pak ES menjanjikan akan memberi mesin jahit dan uang pembinaan setelah kami lulus kursus pembuatan tas. Selain itu ia pun janji akan memberi kemudahan melamar kerja di perusahaan fotografi serta uang pembinaan bagi peserta kursus digital photography. Namun semuanya hanya tinggal janji belaka. Setelah didemo hingga malam hari, beliau pun akhirnya “hanya” memberikan mesin jahit pada setiap peserta kursus pembuatan tas sementara janji lainnya ia ingkari. Begitulah cerita nyata tentang LPES, berawal manis namun berakhir pahit. Namun aku juga patut bersyukur pernah menjadi peserta kursus ditempat ini, selain mendapatkan banyak teman baru, juga ilmu dan pengalaman yg kudapat sangatlah berharga. Semuanya menjadi bekal yg berharga untuk masa depan.

Motto Pak ES

Sebagai ustadz dan wira usahawan, pak ES memiliki motto tersendiri dalam hidupnya. Beliau sering mengatakan jika bisnis yang ia lakukan adalah hanya sekedar untuk mencari “Sesuap nasi dan segenggam berlian”. Awalnya aku merasa aneh dengan mottonya tersebut, namun setelah dijelaskan oleh beliau, aku pun jadi kagum padanya.
Ya, banyak orang yang bekerja dan berbisnis dengan alasan untuk mencari sesuap nasi, hal itu akan membuat seseorang merasa puas jika kebutuhan hidup primernya telah terpenuhi. Namun pak ES dengan tambahan,”segenggam berlian” punya arti bahwa kerja dan bisnis harus dilakukan berdasar niat ibadah dan tak boleh cepat merasa puas. Jika kita sudah berhasil memenuhi kebutuhan hidup primer, kejarlah kebutuhan lainnya. Intinya, jangan mudah menyerah dan cepat merasa puas, jika sudah sukses, kita pun harus membagikan kesuksesan tersebut pada banyak orang agar jadi amal jariah yg tidak akan terputus walau kita sudah meninggal dunia.

Pak ES juga sangat menyukai ayat al quran dibawah ini :

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

“bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (Ar Ra’d : 11)

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka merubah keadaan pada diri mereka sendiri, itulah kata – kata yang sering diucapkan pak ES untuk memotivasi kami. Jika ingin sukses, rubahlah mental jadi lebih kuat, jiwa jadi lebih berani, ulet, rajin dan pandai mengelola peluang bisnis yang ada di sekitar kita. Kata – kata yang tidak akan terlupakan hingga sekarang.

Kondisi Alumni LPES Sekarang

Setelah LPES resmi dibubarkan, ternyata hanya sebagian kecil saja peserta kursus yang tetap berwira usaha mengamalkan ilmu yg didapat selama belajar di LPES. Sementara yang lainnya ada yg bekerja (termasuk aku), menikah dan menganggur. Sungguh sangat disayangkan hal ini bisa terjadi. Memang setelah lulus dari LPES aku kerja 2,5 tahun sebagai dishwasher alias tukang cuci piring di sebuah restoran seafood dan kini kerja sebagai staf administrasi disebuah perusahaan asuransi. Namun hati kecilku senantiasa terus memberontak ingin berbisnis/berwira usaha seperti dulu lagi.

Aku selalu teringat jualan tas yang keuntungannya besar, bebas menentukan tempat dan waktu jualan serta terbebas dari aturan – aturan yg ada seperti di perusahaan.

Insya Allah, dimasa depan aku ingin jualan lagi. jiwa entrepreneurship didadaku belum padam.

@ kamarku, 14 maret 2010

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Semangaaat :D

Anonim mengatakan...

mbak ada lagi gak kursus yg kayak gituan...??
ane berminat...
atau dimana t4 kurusu tas dibandung..mohon infonya email: zakisaiyo@yahoo.com